Kumpulan Informasi Tante Girang Seluruh Indonesia

Disini tempatnya berkumpul para Tante girang, Informasi tante girang, No Hp tante girang, tante Girang Bugil, tante Girang cantik, tante girang cari brondong, tante genit, tante cantik, tante kaya haus seks, tante bugil, tante telanjang, dan Informasi Tante yang mencari info brondong, tante girang cari Brondong, tante Girang tukar No Hp brondong, tuker no hp Cowok Kuliah cari tante.. Semua ada disini......

Adelia Tante hot yang Cantik

Cerita - gue gak pernah mau bikin Cerita sebelumnya, jadi ini Cerita pertama gue untuk memenuhi janji gue sama adelia yang baik hati dan tidak sombong.


sebenarnya udah lama gue pengen eksekuseks adelia atawa yg dikenal juga dengan miss renata. tapi berhubung skedul gue yang terus-terusan padat jadi belum sempat. dan, kemarin siang di hari libur yang nganggur mendadak dedek gue minta kehangatan khusus dari MILF. beruntung waktu gue PM adelia langsung mendapatkan jawaban positif. buru-buru deh gue depe lewat atm dan terlihat nama rekening adelia yang berbau2 nama dari daerah jawa barat. suhu-suhu udah pada tahu khan model nama dari sana. langsung kebayang2 deh hangatnya pertempuran gue yang ada sedikit turunan dari sono dengan awewe asli sono.

cepet-cepet gue tarik gerobak besi meluncur ke kampus BB dan begitu nyampe langsung info adelia nomor kamar pi ai pi yang gue dapet. ternyata taxi adelia udah deket kampus BB dan gak lama dia ngetok pintu. dengan jantung dan dedek gue yang berdebar2, gue buka pintu kamar dan wooow ternyata gak salah ane pilih nie MILF. wajah dan senyumannya manis, putih, khas sunda banget, dan montooooook bro.

begitu masuk adelia langsung aja akrab ngobrol ngalor ngidul ama gue padahal dedek gue udah ngetok-ngetok celana gue minta segera dilaksanakan upacara penyelupannya. sepertinya adelia juga mendengar erangan keras dedek gue dan nggak lama kemudian dia buka celana dan bajunya dan terlihatlah apa yang dibayang-bayangkan gue selama ini. bodynya yang putih dan boobs yang cukup padat dengan pentil yang mancung membuat gue gak bisa nahan emosi dedek gue yang semakin keras. langsung deh kita ke kamar mandi dan adelia bantuin gue melaksanakan upacara permandian dedek gue yang sudah siap tempur.

selesai cuci, kita langsung beradu tubuh yang telah bugil tanpa selembar benang, namun masih ada bulu tengah gue yang menutupi keperkasaan dedek gue. dimulai dengan FK yang bikin gue begitu bergairah melumat setiap sudut dan lekukan tubuh adelia yang putih, montok, dan harum yang langsung membuat adelia horny tingkat tinggi. dilanjutkan dengan BJ yang halus dan penuh perasaan yg semakin membuat gue gak tahan ingin segera mencelupkan dedek gue yg telah membara ke dalam miss V. langsung aja deh gaya MOT dan yang bikin gue tambah horny bukan hanya desahan dan erangan adelia, tapi wajah horny adelia yang sangat mirip dengan mantan gue waktu kuliah.

MOT yang langsung dipadu dengan FK yang membara layaknya pasangan yang sudah lama gak ML membuat gue semakin meninggikan tempo dan ritme genjotan yang diiringi dengan teriakan-teriakan puncak asmara adelia. walaupun sudah turun mesin lebih dari 1 junior, miss V nya masih termasuk peret erat mencengkeram dedek gue yang sedang menjelajahi setiap relung-relung Gspot di dalamnya. setelah puas dengan MOT, gue baringkan sedikit badan gue ke pinggir dan lanjutkan genjotan dengan gaya samping untuk dapat menunda tumpahan lahar kenikmatan gue. tapi erangan2 adelia yang melengking membuat gue kembali MOT dan mengakhiri kenikmatan ronde pertama dengan tumpahan lahar yang muncrat tertahan caps yang masih ada di dalam miss V. Ronde pertama berakhir sangat memuaskan menyisakan dedek gue yang tetap keras seolah minta untuk langsung masuk ronde kedua.

biasanya setelah O di ronde pertama, gue butuh waktu sekitar 30 menit untuk nyambung ronde dua. tapi dengan adelia yang GFE dan menggairahkan layaknya WFE, setelah cuci sebentar gue langsung minta nyambung ronde kedua yg dimulai dengan FK yang sangat bergairah. kemudian, gue menikmati setiap lekukan-lekukan tubuh adelia yang harum dan memainkan lidah gue di kedua pentil boobs adelia yang masih kencang sambil sekali-sekali melakukan hisapan mesra. kali ini, adelia minta giliran untuk WOT yang merupakan kelemahan gue karena biasanya gampang crooot. ternyata oooh ternyata, adelia bisa mengatur irama genjotan sehingga dedek gue cukup bersahabat untuk menikmati ayunan WOT adelia. setelah puas WOT, gue rasakan untuk segera MOT dan bersama-sama menikmati puncak asmara. rasanya sih pertempuran siang ini dengan adelia berakhir dengan kepuasan bersama tanpa ada paksaan dari kedua belah pihak.

untuk gambar, gue persilahkan adelia yang pasang di thread ini. soale pic diambil pake hp adelia dengan perjanjian tanpa wajah karena kita berdua sepakat masih punya masa depan.  Sekian cerita gue.

Tante dan tukang air isi ulang

Ini cerita tentang seorang yang awalnya sangat mengidolakan Tante muda yang menjadi langganannya dalam isi ulang air, tapi entah kenapa, nasib mujur menhampiri. bak ketiban durian runtuh. Si tante justru ngerespon si tukang air.




Beberapa bulan terakhir ini saya sering merindukan tante dina, beliau adalah salah satu langganan air isi ulangku yang tinggal di perumahan sebelah perumahanku. Ya, saya memang pengusaha depot air minum isi ulang, umurku 34 tahun, dan tante dina adalah seorang ibu satu anak yang umurnya mungkin sebaya denganku. Untuk menanyakan umur pastinya, enggan sekali saya melakukannya, karena yang saya tahu masalah umur adalah masalah yang sensitif untuk seorang perempuan, apalagi bagi perempuan yang sudah menikah dan memiliki momongan. Rasa rindu ini berawal ketika suatu pagi saya mengantar air pesanannya, saat itu saya melihat perempuan ini memandu langkahku menuju dapurnya hanya dengan menggunakan celana dalaman (celana tipis transparan selutut-pembaca mungkin tahu bentuk dan nama celana ini), alhasil celana dalamnya dan bentuk pantatnya nampak jelas dihadapanku. “ah…pagi-pagi sudah mengusik libidoku yang sejatinya memang dalam keadaan tinggi bila di waktu pagi…” kataku dalam hati. “Naikin pak!!!” perintahnya membuyarkan lamunanku. “Apanya bu yang mau dinaikin???” jawabku spontan ngaco karena terkontaminasi pikiran kotor pada saat itu. “ya galonnya atuh…naikin ke dispenser, emang apaan yang mau dinaikin???” katanya sambil menyunggingkan senyum tipis dari bibirnya yang chubby. Begitulah awalnya saya memiliki dendam rindu kepada wanita itu. Sejujurnya kuakui kerinduan ini bukan kerinduan cinta kasih, tapi melainkan kerinduan nafsu. Semenjak peristiwa pagi itu, sering saya membayangkan berhubungan badan dengannya, dan setiap kali saya mengantar air kerumahnya, tak lepas mataku mencuri-curi pandang pada bagian-bagian tertentu tubuhnya. Payudaranya yang tidak terlalu besar, bulat menantang dari balik baju yang dikenakannya, pinggulnya yang lebar semakin menambah keindahan betuk pantatnya yang terlihat tebal dan berisi, kulit punggung telapak tangannya saja putih bersih, apa lagi selangkangannya, menurutku lebih-lebih lagi. Saking terobsesinya saya dengan tubuhnya, sampai-sampai saya amalkan mantera yang saya dapat dari browsing di internet. “niat ingsun kirim mimpen tujuh layaran ning hatine tante dina binti fulan…blablabla….” Kubaca sebelum tidur sebanyak 3 kali sambil membayangkan wajahnya lalu kepruk bantal 3 kali juga, dan paginya sering saya dapati dia habis mandi basah setelah malamnya saya bacakan mantera itu. saya tak tahu pasti apakah mandi basahnya itu karena habis bermimpi bersetubuh denganku atau karena hal lain. Tapi yang pasti, sejak saya amalkan bacaan itu, ada-ada saja alasannya untuk berlama-lama denganku daripada hanya sekedar ngantar air “Buru-buru amat, ngopi dulu atuh.” Salah satu contoh alasan dengan logat daerahnya yang kental, atau “Pak tolong benerin ini dulu dong!” “Tolong pasangin gas sekalian ya pak!” serta kalimat-kalimat pertanyaan singkat yang sifatnya pribadi, dan yang paling berkesan adalah tatapan matanya itu, mengisyaratkan rasa yang dalam. Alhasil kini saya dan tante dina semakin dekat, tidak lagi sebatas hubungan penjual dan pembeli, sering di sela-sela hubungan bisnis, kami isi dengan saling curhat, atau sekedar obrolan-obrolan singkat penuh berisi. Berisi, karena dari obrolan itulah akhirnya saya tahu kalau sebenarnya ia tidak mencintai suaminya, dari obrolan-obrolan itulah akhirnya saya semakin mengenal wanita itu, dan begitupun dia sebaliknya. Kemarin pagi seperti biasanya saya ngantar air ke rumahnya, tapi kali ini saya tidak menunggu dia keluar dulu untuk mengiringi saya membopong galon dari pintu depan ke dapur seperti hari-hari biasanya, kemarin pagi, saya langsung masuk saja karena saya lihat pintu depan terbuka lebar tidak seperti pagi-pagi biasanya, lagipula, saya sudah familier dengan rumah dan penghuninya ini. Langkahku terhenti karena kaget dan hampir-hampir saja galon air ditanganku terlempar karena mendengar pekik perempuan di pojok ruang tengah rumah ini. Wajah perempuan yang memekik itu tidak asing buatku, tapi seonggok daging kembar yang menggelantung di dadanya itu yang membuat saya terkesima tak berkedip dibuatnya. Sungguh saya terpukau melihat payudara yang asing di tubuh wanita yang tidak asing buatku. Payudaranya memang benar tidak besar, tapi bulat padat berisi, ukurannya sepertinya 32. Diujung payudaranya menempel puting besar kemerah-merahan. “Maa…maaf tante dina…” kataku gugup sambil mataku tidak lepas darinya. Dengan santainya dia menjawab, “ya udah, engga apa-apa, sayanya juga tanggung abisnya, udah terlanjur kelihatan.” Katanya sambil menggerak-gerakan kedua kakinya dengan maksud membetulkan posisi celana dalam yang baru saja ia kenakan. Selangkangan itu benar-benar putih, pahanya tebal berisi, ohhh….seonggok daging yang di balik celana dalamnya itu, begitu tebal hingga tercetak jelas di celana dalam hitamnya itu. Pelan-pelan saya rasakan kemaluanku menggeliat bangun dari tidurnya. “hei…udah sana atuh terusin ke dapurnya, malah bengong begitu.” Katanya sambil berusaha mengaitkan BH warna hitamnya. “Ta….” Belum selesai saya bicara, dia sudah menyela, “udah engga apa-apa, kaya sama orang baru kenal aja, ga usah di bantu, saya bisa dan biasa makai pakaian sendiri tiap habis mandi. Udah taruh galonnya didispenser sana, kalo kelamaan malah sayanya nanti jadi malu.” Tanpa menunggu instruksi dua kali, segera saya berlari kecil menuju dapur dengan maksud bisa secepatnya kembali lagi ke ruang tengah ini untuk menyaksikan pemandangan indah dari tubuh padat mungil tante dina langganan sekaligus temanku kini. Tapi sayang, wanita itu kini sudah berpindah posisi duduk di kursi tamu sambil mengusap-usap rambutnya dengan handuk. Mataku, terus saja mencari seonggok daging yang kini tertutup dengan u can see merah dan celana pendek hitam. “Habis mandi basah tante dina?” godaku sambil memrebahkan pantat di seberang kursi yang dia duduki. “Tau nih, semalem abis mimpi enak sama orang, tapi sayangnya bukan sama suamiku.” “Katanya engga cinta, tapi ngarepin mimpi sama suaminya sih?” jawabku spontan. Dia hanya mencibir genit sambil mencubit pinggangku dan berlalu meninggalkanku ke dalam kamar. Dalam moment seperti ini, adalah saat yang tepat untuk terus menggoda dan merayunya dengan tujuan bisa menikmati tubuhnya yang selama ini saya bayang-bayangkan. Tapi keberanianku pupus sejak saya menikah dengan gadis alim berjilbab dua tahun yang lalu. Padahal semasa bujang dulu saya begitu lihai menggoda dan merayu wanita untuk menaklukannya agar bersimpuh ke dalam pelukanku. Pada moment seperti ini bisa saja saya mengikutinya ke kamar, terus menyergap dan memeluknya, mencumbunya dan akhirnya menyetubuhi tubuh mulus itu. Apalagi sepertinya lampu hijau sudah dia nyalakan sebagai tanda dia membuka dirinya untuk di nikmatiku. Malah pernah suatu ketika saat kami sama-sama di dapur yang Cuma berukuran 1x2,5 m sewaktu saya mau mengangkat galon ke dispenser, dan dia sedang mencuci piring, terpaksa saya harus melewati tubuhnya dengan merapat karena sempit dan sesaknya dapur ini dengan perabot. Pada saat itu, kemaluanku menyenggol pantatnya yang bergoyang-goyang seirama dengan gerakan tangannya mencuci piring. Langkahku tidak saya teruskan menuju dispenser, karena saya rasakan dia menggesek-gesekan pantatnya ke kemaluanku sambil berkata “sempiiiit atuhhh….tapi lumayan ya???” Sungguh, kemarin pagi keberanianku menaklukan wanita hilang, padahal di rumah ini hanya ada kami berdua, anaknya sekolah, suaminya kerja, dan tante dina sudah menantiku di dalam kamar sana, mungkin……………… Demikian Cerita kami, semoga menghibur dan jadi pelajaran buat kita semua. salam tante tante girang.

Pembantu dan Tante Girang

 Kisah pembantu dan majikan sudah banyak cerita nya, tapi yang kali ini lain dan sangat berkesan, seorang tante girang yang memiliki pembantu pria yang biasa biasa saja. bisa berhubungan badan karena kesepian, Pelajaran buat suami suami yang meninggalkan istrinya sendirian.


Hari ini Lisa menerima telenar dari suaminya yang baru saja kembali di Jakarta. Dari airport suaminya langsung menuju ke kantor, dalam perjalanan menuju ke kantor, ia menelenar Lisa memberitahukan bahwa ia sudah berada di Jakarta dan sedang dalam perjalanan menuju ke kantornya, ia menjelaskan kepada istrinya bahwa kepulangannya memang mendadak karena ada pertemuan dengan kliennya di Jakarta.

Lisa pun hanya mengiyakan saja tanpa memberikan komentar apapun, batinnya berkata ada di Jakarta ataupun tidak ada di Jakarta tidak ada pengaruhnya untuk dia, karena selama ini suaminya tidak pernah memberikan nafkah bathin untuknya, ia selalu mendapatkan nafkah bathin dari orang lain, jadi kalau suaminya di Jakarta malah membuat sulit Lisa untuk melakukan aktivitas seksnya. Rencana Lisa hari ini untuk menikmati batang kemaluan kenalan barunya menjadi batal karena telenar suaminya tadi, sementara ia merasakan lubang memeknya sudah gatal ingin digaruk oleh penis lelaki lain, tapi apa daya suaminya ada di Jakarta, Lisa takut saat dia melakukan persetubuhan dengan kenalan barunya dan saat itu juga suaminya menelnar atau suaminya pulang lebih awal, bisa kacau nanti semuanya.

Akhirnya Lisa membatalkan rencananya untuk pergi keluar pada hari ini, hatinya berkata biarlah akan kutunggu sampai suaminya pergi keluar kota lagi, baru kupuaskan dahaga bathinku ini. Siangnya Lisa betul-betul gelisah, dia betul-betul ingin sekali merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan lelaki, karena menahan desakan hasrat birahinya, kedua pipinya memerah. Lisa saat itu sedang duduk santai di ruang keluarga menonton TV tanpa sadar tangannya mulai mengusap-usap bibir memeknya dari balik CDnya, saat itu Lisa mengenakan baju model baby doll, roknya sedikit terangkat sehingga CD putihnya terlihat dan pahanya yang putih mulus pun terlihat dengan jelas, Lisa yang sedang asyik masyuk tidak menyadari hal itu, yang ada dalam pikirannya sekarang adalah batang kemaluan lelaki yang tegang dan besar.

 Usapan tangannya di kelentitnya membuat memeknya mulai basah, Lisa mulai mendesah perlahan, menikmati belaian lembut tangannya di kelentit dan dibibir memeknya, tangan kirinya mulai meremas-remas payudaranya, kedua payudaranya yang tidak mengenakan BH silih berganti diremas-remas oleh tangan kirinya, ia membayangkan selingkuhannya sedang meremas-remas kedua payudaranya silih berganti dan ia juga membayangkan saat itu juga sedang dijilati kelentit dan memeknya, memeknya semakin basah, hasrat birahinya semakin memuncak. Ruangan keluarga itu letaknya cukup berjauhan dengan dapur dan ruang makan, jika sedang berada di dapur atau di ruang makan kegiatan apapun yang terjadi di ruang keluarga tidak akan terlihat dari dapur atau ruang makan, begitu pula sebaliknya, dan para pembantunya bila sudah selesai bebenah di ruangan keluarga atau di ruangan lainnya, mereka akan berkumpul di ruangan mereka. Ruangan itu terletak dekat dengan kamar mereka yaitu dekat dengan garasi mobil, jadi kegiatan Lisa saat ini tidak ada satu orang pun yang melihatnya.

Gejolak birahi Lisa semakin meningkat, desahannya semakin sering terdengar, kedua payudaranya yang tidak mengenakan BH sudah tidak tertutup apa-apa lagi, kedua putingnya sudah mengeras dan mencuat keluar, CDnya sudah melorot sampai paha, dan terlihat jari tengah tangan kanannya sudah berada dalam jepitan memeknya, dan terlihat jari tengahnya sedang keluar masuk di lubang memeknya, terlihat pantatnya naik-turun dari kursinya seiring dengan keluar masuk jari tengahnya. Lisa yang sedang berusaha keras untuk mencapai puncak birahinya tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang menyaksikan aksinya. Kedua bola mata yang menyaksikan tingkah Lisa itu terbelalak, jantungnya berdegup kencang nafasnya memburu, pemandangan yang disaksikan oleh pemilik kedua bola mata itu, yang dalam mimpinyapun tidak pernah terbayangkan olehnya. Kedua payudara Lisa yang setengah terbuka dan kelihatan kedua putingnya dan sedang diremas-remas bergantian oleh tangan kirinya, kemudian di bawah ia melihat belahan bibir memek Lisa yang kadang terlihat dan kadang tidak terlihat karena jari tengah tangan kanan Lisa sedang keluar masuk di lubang memeknya itu, semua itu membuat si empunya mata tersebut berkali-kali menelan ludah, seumur hidupnya belum pernah ia menyaksikan pemandangan indah seperti ini.

Si empunya mata merasakan penisnya mulai mengeras melihat semua itu, hampir tanpa berkedip kedua matanya tertuju ketubuh Lisa, nafasnya semakin memburu melihat ulah Lisa, tubuh Lisa terlihat olehnya meregang-regang, penisnya semakin mengeras, terlihat celana pendeknya menggelembung oleh desakan penisnya yang seolah ingin keluar dari sekapan celana pendeknya, pada saat kepala Lisa mendongak ke belakang, kedua matanya yang setengah terpejam menangkap sesosok tubuh si empunya mata tadi. Lisa sungguh kaget sekali karena ada orang yang sedang menyaksikan ulah liarnya tersebut, aksi liar kedua tangannya berhenti seketika. “Ehhh, Danar…addaaaaa…apaaa…sedaang apa kamuuu…,” Lisa berkata dengan terengah-engah, kaget dan jengkel karena puncak birahinya tidak terlampiaskan. “Eeehhh…aaanuuuu…..aaanuuu…bu…,” Danar kaget mendengar teguran Lisa, karena saat itu dirinya sedang asyik melihat aksi nyonyanya tersebut. Biarpun kaget tapi kedua mata Danar tidak melepaskan pandangannya dari tubuh Lisa yang masih agak terbuka, hal ini tidak Lisa sadari karena ia kaget dengan kehadiran Danar di ruangan tersebut, yang hanya Lisa ingat lakukan saat ia berdiri dari kursinya tadi adalah CDnya yang ia benahi, sehingga saat ia berdiri berhadapan dengan Danar kedua payudaranya yang putih mulus itu masih terpampang dengan jelas di hadapan Danar. “Anu..anu apa,” Lisa berkata kepada Danar dengan jengkel, karena malu dan karena gejolak birahinya tidak terlampiaskan.

“Eeehhh…ini..ini..,Bu. Sayaa…mau minta uang untuk beli bahan pembersih kolam, yang kita punya sudah habis,” Danar menjawab agak tergagap-gagap, dengan kedua matanya tetap tertuju ke arah payudara Lisa yang seolah-olah menantang ingin diremas. “nar, apa yang kamu lihat tadi, jangan sampai ada orang lain yang tahu, kalau sampai ada yang tahu, kamu saya pecat,” ancam Lisa, dan saat itu kedua mata Lisa melirik ke arah selangkangan Danar, dan ia melihat tonjolan di celana pendek Danar. Danar betul-betul merasa ketakutan dan merasa bersalah dengan kelakuannya yang melihat tubuh Lisa yang setengah telanjang, tapi kedua matanya tidak pernah beranjak dari payudara Lisa yang menggantung dengan indahnya, payudara Lisa yang putih mulus dihiasi oleh kedua putingnya yang merah muda dan sudah menyembul keluar dan mengeras itu. Setelah menimbang-nimbang dengan segala kemungkinannya, Lisa pun mengambil keputusan untuk melakukan “quickie sex” dengan Danar, lalu iapun memerintahkan Danar untuk duduk di sofa. Lisa tahu bahwa penis Danar sudah pasti sedang berdiri dengan gagahnya di balik celana pendeknya itu. Hati Lisa mulai ragu antara ingin menikmati sodokan batang kemaluan lelaki dengan takut akan suaminya pulang lebih awal, ia melirik jam dinding yang ada di ruangan tersebut, pukul 13.30 siang, hatinya membatin suaminya tidak mungkin pulang cepat, ia bisa melakukan “quickie sex” dengan Danar untuk meraih puncak kenikmatannya yang terganggu. Akhirnya nafsu birahinya mengalahkan akal sehatnya, Lisa pun mengambil keputusan untuk merasakan batang kemaluan Danar mengaduk-aduk lubang memeknya. “Iyyaaa…Bu..saya sumpah tidak akan cerita ke orang lain,” jawab Danar ketakutan. “Duduk, kamu,” perintah Lisa. Danar menuruti perintah Lisa untuk duduk, iapun duduk di sofa yang ditunjuk oleh Lisa, dengan hati penuh kebingungan dan dengan tatapan mata yang tidak pernah terlepas dari payudara Lisa. “Ingat kamu jangan cerita kepada siapapun, cukup hanya kita berdua yang tahu masalah ini, hhhmmm ..,” ancam Lisa kembali sambil berjalan menghampiri yang sudah duduk di sofa, tanpa membuang waktu Lisapun mulai menurunkan celana pendek Danar sampai ke lutut. Batang kemaluan Danar yang sudah tegang terangguk-angguk saat celana pendeknya terlepas, ternyata Danar pada saat itu tidak mengenakan CD, Lisa kaget karena ia tidak menyangka bahwa Danar tidak mengenakan CD, penisnya yang sudah sangat tegang sekali teracung-acung di hadapannya. “Ingat, nar, apapun yang terjadi kamu jangan cerita kepada siapapun,” kembali Lisa berkata. “Iyaah..bu…saaayyyaaa….jaanji…,” jawab Danar gagap, karena ia kaget akan aksi nyonyanya ini yang membuka celana pendeknya. Ia sendiri bingung, dalam hatinya berkata apa yang dikehendaki oleh nyonyanya ini, karena belum pernah selama ini ada perempuan yang melihat penisnya apalagi dalam keadaan tegang, Danar pun merasa malu karena nyonyanya sudah melihat penisnya yang tegang itu. Tangan kanan Lisa segera meraih batang kemaluan Danar, iapun segera mengangkang di atas pangkuan Danar.

 sementara tangan kirinya meraih CDnya dan menarik salah satu pinggiran CDnya ke samping, sehingga belahan bibir memeknnya terlihat dengan jelas oleh Danar, Danar yang belum pernah melakukan hubungan badanpun dibuat bingung oleh aksi Lisa, dan saat Lisa mulai mengoles-oleskan kepala penisnya ke bibir memeknya, Danar merasakan geli yang aneh saat kepala penisnya bersentuhan dengan bibir memek Lisa, penisnya berdenyut-denyut. Tanpa membuang waktu Lisa segera menyelipkan batang kemaluan tersebut di bibir memeknya dan ia mulai menekan pantatnya ke bawah dengan perlahan dan batang kemaluan Danar perlahan-lahan menyeruak masuk di lubang memek Lisa. Ssleeeepppp…..bleeessss….bleeesss…..bleesss… Dengan perlahan-lahan penis Danar mulai melesak masuk di lubang memek Lisa dan akhirnya terbenam seluruhnya, Danar merasakan kenikmatan yang luar biasa yang belum pernah ia alami selama ini, rasa geli yang aneh menyelimuti dirinya, saat penisnya terjepit dalam lubang memek Lisa, Danar merasakan penisnya seperti ada yang meremas-remas. “Ooouuuggghhhh…..,” Lisa melenguh saat lubang memeknya diterobos oleh penisnya Danar. “Eeeeggghhhh……..,” Danarpun mengerang merasakan jepitan lubang memek Lisa di penisnya. Dengan kedua tangan bertumpu pada sandaran kepala sofa, Lisa perlahan-lahan mulai bergerak, menaik turunkan pantatnya, kedua payudaranyapun terguncang naik turun seiring dengan naik turun pantatnya. Danar yang masih bingung dengan apa yang terjadi hanya bisa melotot melihat kedua payudara Lisa yang terombang-ambing di hadapan matanya. “Aaagghhh…eenaaakkk…nar, kaamuuu…jangan melongo..saaaajjaa…ooogghhh… hisap kedduaaa…tetekku…

remaaassss….remaaasss…,” Lisa mendesah keenakan. Danar yang mendengar perintah Lisa mulai melakukannya, kedua tangannya mulai meraih payudara Lisa yang sedang terombang-ambing itu, lalu ia meremas kedua payudara tersebut, karena belum pernah ia melakukan hal tersebut, Lisa merasakan remasan tangan Danar di kedua payudaranya agak kasar, tapi sensasi yang ditimbulkan oleh remasan kasar tangan Danar membuatnya merasakan hal baru, gairah birahinya yang sempat tertunda tadi mulai meningkat lagi. Mulut Danarpun mulai bergantian menghisap-hisap kedua payudara Lisa, hisapan-hisapan mulut Danarpun tidak beraturan, Danar betul-betul menghisap tetek Lisa seperti ia menyedot minuman, akibatnya Lisa kembali merasakan sensasi yang berbeda daripada biasanya, hisapan-hisapan kuat Danar pada kedua teteknya membuat ia menggelinjang, Lisapun merasakan geli yang aneh di kedua payudaranya tersebut. Danar yang belum pernah melakukan seks ini, merasakan kenikmatan yang luar biasa, kenikmatan yang belum pernah ia alami selama ini, mulutnya mendesah-desah di tengah kesibukannya menghisap-hisap payudara Lisa, matanya merem melek menikmati jepitan lubang memek Lisa pada penisnya, Danar merasakan penisnya bergesekan dengan lubang memek Lisa, ia merasakan geli yang luar biasa, penisnya semakin berdenyut dengan kuat dan semakin menegang, Lisa merasakan penis Danar yang semakin mengeras. Lisa merasakan penis itu begitu tegang dan keras, dinding lubang memeknya merasakan kekerasan penisnya Danar tersebut, cairan birahinya semakin banyak bercampur dengan cairan birahi Danar, akibatnya suara berdecak dari pertemuan dua kemaluan merekapun terdengar, menambah semangat Lisa untuk menaik-turunkan pantatnya. Lisa sudah lupa akan kemungkinan suaminya pulang cepat, yang ada sekarang ini Lisa betul menikmati sodokan-sodokan batang kemaluan Danar di memeknya. Tak lama berselang Danar melenguh keras, penisnya berdenyut dengan keras, penisnya mulai menembakkan air maninya. Crreeeettt….creeettt….creeett……. air mani Danar berhamburan keluar membasahi lubang memek Lisa. “Ouuuuggghhh….hhhmmmmmhhh….sssllrrppppp…ssslr rrppp p….hhhmmm…..,” Danar melenguh merasakan letupan-letupan lahar kenikmatannya yang sedang mengalir dari penisnya membasahi memek Lisa sambil mulutnya tetap menghisap-hisap payudaranya. Lisa merasakan letupan-letupan air mani Danar di dinding memeknya, ia tahu Danar sudah meraih puncak kenikmatannya, Lisapun semakin gencar menaik turunkan pantatnya, ia merasa takut akan tidak berhasil meraih puncak kenikmatannya, karena penisnya Danar sudah menyemburkan lahar kenikmatan, ia merasa takut bahwa sebentar lagi batang kemaluan Danar akan melemas setelah menyemburkan cairan kenikmatan itu.

“Oouuugghh…aaagghhh….ssshhhh..aaagghhh…sssshh hh…aa aaghhhh….. ,” Lisa mendesah keenakan merasakan lesakan batang kemaluan Danar di memeknya dan merasakan hangat di dinding memeknya akibat semburan air mani Danar. Danar merasa lemas saat penisnya menyemburkan tetes terakhir cairan kenikmatannya di lubang memek Lisa, tapi mulutnya masih tetap menghisap-hisap payudara Lisa, penisnya masih berdenyut-denyut. Lisa yang merasakan batang kemaluan Danar tidak menyemburkan cairan kenikmatannya lagi, merasa kaget karena penisnya Danar tidak mengalami perubahan, Lisa merasakan penisnya Danar masih keras dan tegang, biasanya batang kemaluan lelaki perlahan-lahan akan menciut setelah melepaskan cairan kenikmatannya, tapi tidak untuk penisnya Danar, penisnya Danar sudah berhenti mengeluarkan cairan kenikmatan tapi Lisa masih merasakan keras dan tegang. Danar yang berhasil meraih puncak kenikmatannya, dalam sekejap sudah kembali pulih, perlahan-lahan gairah birahinya kembali bangkit, dengan semangat 45 hisapan dan remasan di payudara Lisa semakin gencar, ia hanya merasakan sedikit ngilu di kepala penisnya, tapi lama-lama rasa ngilu itu hilang berganti dengan rasa nikmat. Danar memang belum berpengalaman dalam hal bersetubuh, tapi stamina tubuhnya terutama penisnya, betul-betul membuat takjub Lisa. Lisapun semakin gencar menaik-turunkan pantatnya, dari lubang memeknya perlahan-lahan keluar cairan putih yang bercampur dengan cairan bening, cairan itu keluar seiring dengan keluar masuknya batang kemaluan Danar di lubang memeknya, lenguhan-lenguhan nikmat semakin sering terdengar dari mulut Lisa, sementara dari mulut Danar hanya terdengar dengusan-dengusan keenakan karena mulutnya masih sibuk dengan kedua payudara Lisa. Kedua manusia berlainan jenis ini sudah lupa dengan keadaan sekitarnya, yang mereka tahu hanyalah nikmatnya persetubuhan mereka ini, Lisapun sudah tidak perduli akan kemungkinan suaminya pulang lebih cepat, yang ia perdulikan hanyalah meraih puncak kenikmatannya, yang ia perdulikan hanyalah penisnya Danar yang sedang keluar masuk dalam lubang memeknya. Kedua sosok tubuh mereka sudah basah dengan keringat, nafas keduanya pun terdengar memburu, kedua mata mereka merem-melek menikmati persetubuhan mereka ini, mereka berdua sudah lupa akan status mereka. “Oouughhh, danaarr….kontolmu betul-betul enaaak….kkoontollmu…keras sekali… oougghh… shhhh….aaahh…sssshh.. aaaahhh…..,” Lisa mengerang keenakan merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan Danar di lubang memeknya, Lisa merasakan batang kemaluan Danar tegang dan keras seperti kayu saja layaknya. “Hhmmm…ssllrrppp….hhhmmmm…ssllrpppp….,” Danar bergumam keenakan sambil mulutnya tetap sibuk menghisap tetek Lisa. Remasan tangan Danar di payudara Lisapun tidak pernah berhenti, tangannya meremas-remas kedua payudara Lisa dengan agak kasar. Lisapun menggelinjang akibat hisapan-hisapan kuat mulut Danar dan remasan-remasan kasar di payudaranya, sensasi yang agak sedikit kasar ini belum pernah dialami oleh Lisa, kedua puting payudaranya semakin mencuat keluar dan keras, Lisa semakin mengerang keenakan dibuatnya. “Oouugghhh…aaaaaagghhh… hiisaaapp…Pooon, hissaaappp…kuaaatt..kuatt… yachhh…aaaghh…ssshhsss…oougghh.,” Lisa mengerang-ngerang merasakan kerasnya hisapan mulut Danar. “Kaaammuuu…pernah melaakukaan ini..danarr….” tanya Lisa tanpa menghentikan genjotan pantatnya.

“Beeelumm…sssrrrlppp…Bu,…ssslrrpp…,”jawab Danar sambil asyik menghisap tetek Lisa. Tubuh Lisapun berganti posisi dari setengah berjongkok sekarang posisinya duduk di atas pangkuan Danar, sementara gerakkannya yang naik turun sekarang berganti dengan gerakkan maju mudur, kedua tangannyapun tidak berada di sandaran kepala sofa tetapi sekarang kedua tangannya sedang meremas-remas kepala Danar yang sedang asyik bermain di kedua payudaranya. Tali baju Lisa pun sudah terlepas dari kedua pundak Lisa, akibatnya kedua payudaranya sudah tidak terhalang oleh apapun, sehingga kedua tangan Danarpun bebas meremas-remas kedua payudara tersebut. Danar memang baru pertama kali ini melakukan hubungan seks, tapi karena usia Danar yang masih sangat muda sehingga penisnya yang tadi sudah mengeluarkan sperma masih berdiri dengan gagahnya dan siap untuk bertempur kembali, yang kurang dari Danar hanya pengalaman saja, tapi untuk Lisa itu sudah cukup yang penting penisnya Danar keras dan tegang dan bisa mengobrak-abrik lubang memeknya yang haus akan batang kemaluan lelaki.

“Hhhhmmm…ssslrrppp…sssslrrppp…hhmmm….,” Danar masih asyik dengan aksi hisapannya di payudara Lisa, yang satu ia hisap yang satunya ia remas, kedua payudara Lisa bergantian dihisap dan diremas. “Ouuughh…aaaaghhhh…ssshh…eenaaakk…Poon…eennaa akk.. nikmaattt sekali… terus hisaaaapp…reeemaaass….yaachhh…jangan berhentiiii…ouughhh..aaaagghh ….kontooolllmuuu….eenaaakkk…keeraaassss…….,” Lisa merintih-rintih menikmati semua ini. Gerakan maju mundur tubuh Lisa semakin cepat, Lisa merasakan kelentitnya geli-geli enak bergesekan dengan jembut Danar, remasan tangannya di kepala Danar semakin menjadi akibat hisapan dan remasan Danar di kedua payudaranya. Kepala Lisa bergoyang ke kanan dan ke kiri, mulutnya merintih-rintih keenakan, matanya merem melek menikmati sensasi persetubuhan ini. Tak lama berselang gerakan tubuh Lisa mulai tidak beraturan, tubuhnya mulai mengejut-ngejut, nampaknya puncak kenikmatannya akan segera ia rengkuh, tiba-tiba Lisa menekan pantatnya ke belakang seolah-olah ia ingin penisnya Danar masuk dengan biji pelernya di lubang memeknya, dan… Sssrrrrr……srrrrrrrr…..ssssrrr… Memeknya menyemburkan cairan kenikmatannya, cairan hangat itu menyiram batang kemaluan Danar, Danar merasakan penisnya menjadi hangat oleh siraman cairan kenikmatan Lisa, Danar juga merasakan dinding memek Lisa seolah meremas-remas penisnya. “OOuuuggggghhh….aakuuu….keluuuarrr…Pooonnn, aaaakuuu…aaagghh..enaakkk nikkmaaat….aaagghhh….,” erang Lisa menikmati puncak kenikmatannya yang berhasil ia rengkuh. Tubuh Lisa mengejang, gerakannya terhenti, tangannya meremas kepala Danar dengan kuat, nafasnya tersengal-sengal, saat memeknya meneteskan tetes terakhir dari cairan kenikmatannya, Lisapun melenguh panjang, dinding memeknya masih berkedut-kedut, yang dirasakan oleh Danar seolah-olah meremas-remas penisnya. Dengan nafas yang masih memburu, Lisapun ambruk di atas pangkuan Danar, Danar hanya bisa diam, dia tidak tahu apa yang harus diperbuat, perlahan-lahan Lisa membuka matanya lalu berkata, “Kamu suudah keluar, nar,” Tanya Lisa. “Belum, Bu,”jawab Danar polos. “Hhhmmmm kamu termasuk ayam pejantan juga,” Lisa berkata dengan genit. Dengan perlahan-lahan Lisa mulai menggerakkan tubuhnya lagi, pantatnya ia maju mundurkan, sehingga batang kemaluan Danar mulai kembali keluar masuk memek Lisa. Sebetulnya Lisa sudah merasa puas dengan pencapaian puncak kenikmatannya ini, tapi karena dia tahu bahwa Danar belum berpengalaman, akhirnya ia mengambil keputusan untuk memuaskan penisnya Danar sampai mengeluarkan cairan kenikmatannya lagi. Danar merasakan kembali penisnya keluar masuk memek Lisa, Lisa bergerak dengan cepat, ia ingin cepat-cepat menuntaskan permainan ini, karena hasrat birahinya sudah terpenuhi dia mulai sedikit khawatir akan kedatangan suaminya, tubuhnya maju mundur dengan cepat, penisnya Danarpun akibatnya keluar masuk dengan sangat cepat, Blleeesssss….sssrrrttt….bleeeessss…ssrtttttt…blees sss….sssrtttt…. Lisa memaju mundurkan pantatnya dengan cepat, batang kemaluan Danarpun keluar masuk di lubang memek Lisa seiring dengan gerakan maju mundur, dengan gerakan Lisa yang cepat ini membuat Danar agak kesulitan menghisap payudara Lisa, sehingga yang bisa ia lakukan hanya meremas-remas payudara tersebut, dan suara erangan Danarpun mulai terdengar jelas. “Aaaaghhh….ssshhhh…ooougghh….sssshhh… enaaakk…Bu…eenaaakkk…,” Danarpun mengerang kenikmatan, merasakan jepitan memek Lisa di penisnya. “Ehhmmm…enaak…nar…aaayoo…keluaaariinn…ceppaat …,” Lisapun mendesah. Tubuh Lisa menghentak-hentak dengan cepat, goyangan pantatnya semakin bertambah cepat, batang kemaluan Danar semakin mengeras jadinya, Lisa merasakan batang kemaluan Danar seperti batang kayu yang dimasukkan ke dalam memeknya, seluruh dinding memeknya merasakan kerasnya batang kemaluan Danar tersebut, gairah birahinyapun menanjak dengan cepat.

“Ouughh…Poon..Koontooollmmmu…..keeraasssss…se ekaal liii…sssshhh…aaaggh nikmaaat betuulll…aaarrggghhh….aaakkuuu…ingin teruuusss…merasakannyaaaa oooohhhhh…..” Lisa merintih-rintih keenakan. “Aaahhh…iiyaaaahh….mmmmmm….eeennaakkk….ooohhh …puny aa….ibuuu..juga enaaaak….,” Danar mengerang nikmat. Lisa sibuk dengan goyangan dan maju mundur pantatnya sementara Danar sibuk dengan kedua belah tangannya yang meremas-remas kuat payudara Lisa. Nafas mereka berduapun terdengar memburu, puncak pendakian kenikmatan mereka sudah mulai di ambang pintu. Gerakan Lisapun semakin menggila dan liar, rintihan-rintihannya semakin terdengar, erangan Danarpun semakin sering terdengar, suara rintihan dan erangan mereka terdengar bergantian, diselingi dengan suara decakan akibat beradunya kedua kemaluan mereka, lubang memek Lisa semakin banjir, batang kemaluan Danarpun semakin leluasa keluar masuk di lubang memek Lisa, tanpa hentinya Lisa melenguh-lenguh keenakan. Tubuh Lisapun mulai bergerak tidak beraturan, tubuh Danar mulai terlihat mengejang, otot-otot di tangannya terlihat, puncak pendakian kenikmatan mereka akhirnya berhasil mereka rengkuh, dengan sekali hentak Lisa menekan dalam-dalam pantatnya. Ccrreeeeetttt….sssssrrrrrrr…ccreeetttt…creeeettttt …ssssrrrrrr….. Kemaluan mereka berdua secara bersamaan menyemprotkan lahar kenikmatan mereka.

“Ooouugghhh…akuuu..keluaarrr..lagiiii…aaaaggh hh…en aaakkk…nikmaattt…. kamuuu betul…betullll…perkaaassaaa….Pooon,” erang Lisa menikmati puncak pendakian kenikmatannya yang kedua kalinya. “Hhhhhmmm…aaaaahh..ssshh…aaakuuu…jugaa….kelua arrr… Buuu,” Danarpun melenguh keenakan. Tubuh Lisapun ambruk kembali di pangkuan Danar, nafas keduanya terdengar memburu, perlahan-lahan batang kemaluan Danar mulai mengecil dan terlepas dari jepitan memek Lisa. Seiring terlepasnya batang kemaluan Danar dari lubang memek Lisa kemudian mengalir cairan putih bercampur dengan cairan bening dan jatuh ke paha Danar. Setelah nafas mereka kembali normal, Lisa mengingatkan kembali ke Danar untuk tidak menceritakan kejadian barusan kepada siapapun dan ia juga mengingatkan Danar untuk kapanpun jika ia sedang ingin melakukan hubungan badan, Danar harus siap.

 Lisa juga menambahkan agar Danar bertingkah seperti biasanya saja, Danar hanya mengiakan kehendak nyonyanya tersebut, Danar berpikir alangkah bodohnya ia bila menceritakan hal tersebut ke orang lain yang bisa berakibat ia tidak dapat menikmati tubuh mulus nyonyanya lagi dan tidak bisa merasakan surga dunia. Danarpun beranjak setelah mengenakan celananya menuju ke kamarnya, sementara Lisapun merapikan pakaian dan CDnya beranjak ke kamarnya, Lisa membersihkan badannya di kamar mandi, setelah selesai mandi Lisa mengambil daster satu tali yang mini, dalamannya ia hanya mengenakan CD saja tanpa BH, dan beranjak keluar kamarnya menuju ke ruangan keluarga dan menonton TV sambil menunggu kedatangan suaminya.

Demikian cerita antara tante dengan pembantunya, berbeda dengan cerita pembantu dengan majikan yang sebelumnya menjadi bacaan favorit pecinta blog ini. Sekian dan semoga menghibur.

Bu RT yang seksi

Usia tidak lagi menjadi penghalang untuk orang yang ingin menikmati kepuasan seks, dan kepuasan seks bisa didapat baik dengan teman, tetangga ataupun Ibu RT> nah cerita tante girang kali ini adalah tentang seks dengan Bu Rt yang seksi, sebagai ibu Rt yang mendampingi Pak rt, walau umur sudah cukup matang, penampilan tetap harus enak dilihat. Usia Bu hartono sebenarnya tidak muda lagi bisa disebut ibu setengah baya. Mungkin menjelang 50 tahun. Sebab suaminya, Pak hartono yang menjabat Ketua RT di kampungku, sebentar lagi memasuki masa pensiun. Aku mengetahui itu karena hubunganku dengan keluarga Pak hartono cukup dekat. Maklum sebagai tenaga muda aku sering diminta Pak hartono untuk membantu berbagai urusan yang berkaitan dengan kegiatan RT.

Namun berbeda dengan suaminya yang sering sakit-sakitan, sosok istrinya wanita beranak yang kini menetap di luar Jawa mengikuti tugas sang suami itu, jauh berkebalikan. Kendati usianya hampir memasuki kepala lima, Bu Har (begitu biasanya aku dan warga lain memanggil) sebagai wanita belum kehilangan daya tariknya. Memang beberapa kerutan mulai nampak di wajahnya. Tetapi buah dadanya, pinggul dan pantatnya, sungguh masih mengundang pesona.

Aku dapat mengatakan ini karena belakangan terlibat perselingkuhan panjang dengan wanita berpostur tinggi besar tersebut. Kisahnya berawal ketika Pak hartono mendadak menderita sakit cukup serius. Ia masuk rumah sakit dalam keadaan koma dan bahkan berhari-hari harus berada di ruang ICU (Intensive Care Unit) sebuah RS pemerintah di kotaku. Karena ia tidak memiliki anggota keluarga yang lain sementara putri satu-satunya berada di luar Jawa, aku diminta Bu Har untuk membantu menemaninya selama suaminya berada di RS menjalani perawatan. Dan aku tidak bisa menolak karena memang masih menganggur setamat SMA setahun lalu. "Kami bapak-bapak di lingkungan RT memita Mas Rido mau membantu sepenuhnya keluarga Pak hartono yang sedang tertimpa musibah. Khususnya untuk membantu dan menemani Bu Har selama di rumah sakit. Mau kan Mas Rido,?" Begitu kata beberapa anggota arisan bapak-bapak kepadaku saat menengok ke rumah sakit. Bahkan Pak Nandang, seorang warga yang dikenal dermawan secara diam-diam menyelipkan uang Rp 100 ribu di kantong celanaku yang katanya untuk membeli rokok agar tidak menyusahkan Bu Har. Dan aku tidak bisa menolak karena memang Bu Har sendiri telah memintaku untuk menemaninya. Hari-hari pertama mendampingi Bu Har merawat suaminya di RS aku dibuat sibuk. Harus mondar-mandir menebus obat atau membeli berbagai keperluan lain yang dibutuhkan. bahkan kulihat wanita itu tak sempat mandi dan sangat kelelahan. Mungkin karena tegang suaminya tak kunjung siuman dari kondisi komanya.

Menurut dokter yang memeriksa, kondisi Pak hartono yang memburuk diduga akibat penyakit radang lambung akut yang diderita. Maka akibat komplikasi dengan penyakit diabetis yang diidapnya cukup lama, daya tahan tubuhnya menjadi melemah. Menyadari penyakit yang diderita tersebut, yang kata dokter proses penyembuhannya dapat memakan waktu cukup lama, berkali-kali aku meminta Bu Har untuk bersabar. "Sudahlah bu, ibu pulang dulu untuk mandi atau beristirahat. Sudah dua hari saya lihat ibu tidak sempat mandi. Biar saya yang di sini menunggui Pak Har," kataku menenangkan. Saranku rupanya mengena dan diterima. Maka siang itu, ketika serombongan temannya dari tempatnya mengajar di sebuah SLTP membesuk (oh ya Bu Har berprofesi sebagai guru sedang Pak Har karyawan sebuah instansi pemerintah), ia meminta para pembesuk untuk menunggui suaminya. "Saya mau pulang dulu sebentar untuk mandi diantar Nak Rido. Sudah dua hari saya tidak sempat mandi," katanya kepada rekan-rekannya.

 Dengan sepeda motor milik Pak Har yang sengaja dibawa untuk memudahkan aku kemana-mana saat diminta tolong oleh keluarga itu, aku pulang memboncengkan Bu Har. Tetapi di perjalanan dadaku sempat berdesir. Gara-gara mengerem mendadak motor yang kukendarai karena nyaris menabrak becak, tubuh wanita yang kubonceng tertolak ke depan. Akibatnya di samping pahaku tercengkeram tangan Bu Har yang terkaget akibat kejadian tak terduga itu, punggungku terasa tertumbuk benda empuk. Tertumbuk buah dadanya yang kuyakini ukurannya cukup besar. Ah, pikiran nakalku jadi mulai liar. Sambil berkonsentrasi dengan sepeda motor yang kukendarai, pikiranku berkelana dan mengkira-kira membayangkan seberapa besar buah dada milik wanita yang memboncengku. Pikiran kotor yang semestinya tidak boleh timbul mengingat suaminya adalah seorang yang kuhormati sebagai Ketua RT di kampungku. Pikiran nyeleneh itu muncul, mungkin karena aku memang sudah tidak perjaka lagi.

Aku pernah berhubungan seks dengan seorang WTS kendati hanya satu kali. Hal itu dilakukan dengan beberapa teman SMA saat usai pengumuman hasil Ebtanas. Setelah mengantar Bu Har ke rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahku, aku pamit pulang mengambil sarung dan baju untuk ganti. "Jangan lama-lama nak Rido, ibu cuma sebentar kok mandinya. Lagian kasihan teman-teman ibu yang menunggu di rumah sakit," katanya. Dan sesuai yang dipesannya, aku segera kembali ke rumah Pak Har setelah mengambil sarung dan baju. Langsung masuk ke ruang dalam rumah Pak Har. Ternyata, di meja makan telah tersedia segelas kopi panas dan beberapa potong kue di piring kecil. Dan mengetahui aku yang datang, terdengar suara Bu Har menyuruhku untuk menikmati hidangan yang disediakan. "Maaf Nak Rido, ibu masih mandi. Sebentar lagi selesai," suaranya terdengar dari kamar mandi di bagian belakang. Tidak terlalu lama menunggu, Ia keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke kamarnya lewat di dekat ruang makan tempatku minum kopi dan makan kue. Saat itu ia hanya melilitkan handuk yang berukuran tidak terlalu besar untuk menutupi tubuhnya yang basah. Tak urung, kendati sepintas, aku sempat disuguhi pemandangan yang mendebarkan. Betapa tidak, karena handuk mandinya tak cukup besar dan lebar, maka tidak cukup sempurna untuk dapat menutupi ketelanjangan tubuhnya. Ah,.. benar seperti dugaanku, buah dada Bu Har memang berukuran besar. Bahkan terlihat nyaris memberontak keluar dari handuk yang melilitnya.

Bu Har nampaknya mengikat sekuatnya belitan handuk yang dikenakanannya tepat di bagian dadanya. Sementara di bagian bawah, karena handuk hanya mampu menutup persis di bawah pangkal paha, kaki panjang wanita itu sampai ke pangkalnya sempat menarik tatap mataku. Bahkan ketika ia hendak masuk ke kamarnya, dari bagian belakang terlihat mengintip buah pantatnya. Pantat besar itu bergoyang-goyang dan sangat mengundang saat ia melangkah. Dan ah, .. yang tak kalah syur, ia tidak mengenakan celana dalam. Bicara ukuran buah dadanya, mungkin untuk membungkusnya diperlukan Bra ukuran 38 atau lebih. Sebagai wanita yang telah berumur, pinggangnya memang tidak seramping gadis remaja. Tetapi pinggulnya yang membesar sampai ke pantatnya terlihat membentuk lekukan menawan dan sedap dipandang. Apalagi kaki belalang dengan paha putih mulus miliknya itu, sungguh masih menyimpan magnit. Maka degup jantungku menjadi kian kencang terpacu melihat bagian-bagian indah milik Bu Har. Sayang cuma sekilas, begitu aku membatin. Tetapi ternyata tidak. Kesempatan kembali terulang. Belum hilang debaran dadaku, ia kembali keluar dari kamar dan masih belum mengganti handuknya dengan pakaian. Tanpa mempedulikan aku yang tengah duduk terbengong, ia berjalan mendekati almari di dekat tempatku duduk. Di sana ia mengambil beberapa barang yang diperlukan. Bahkan beberapa kali ia harus membungkukkan badan karena sulitnya barang yang dicari (seperti ia sengaja melakukan hal ini). Tak urung, kembali aku disuguhi tontonan yang tak kalah mendebarkan. Dalam jarak yang cukup dekat, saat ia membungkuk, terlihat jelas mulusnya sepasang paha Bu Har sampai ke pangkalnya. Paha yang sempurna, putih mulus dan tampak masih kencang.

Dan ketika ia membungkuk cukup lama, pantat besarnya jadi sasaran tatap mataku. Kemaluannya juga terlihat sedikit mengintip dari celah pangkal pahanya. Perasaanku menjadi tidak karuan dan badanku terasa panas dingin dibuatnya. Apakah Bu Har menganggap aku masih pemuda ingusan? Hingga ia tidak merasa canggung berpakaian seronok di hadapanku? Atau ia menganggap dirinya sudah terlalu tua hingga mengira bagian-bagian tubuhnya tidak lagi mengundang gairah seorang laki-laki apalagi laki-laki muda sepertiku? Atau malah ia sengaja memamerkannya agar gairahku terpancing? Pertanyaan-pertanyaan itu serasa berkecamuk dalam hatiku. Bahkan terus berlanjut ketika kami kembali berboncengan menuju rumah sakit. Dan yang pasti, sejak saat itu perhatianku kepada Bu Har berubah total.

Aku menjadi sering mencuri-curi pandang untuk dapat menatapi bagian-bagian tubuhnya yang kuanggap masih aduhai. Apalagi setelah mandi dan berganti pakaian, kulihat ia mengenakan celana dan kaos lengan panjang ketat yang seperti hendak mencetak tubuhnya. Gairahku jadi kian terbakar kendati tetap kupendam dalam-dalam. Dan perubahan yang lain, aku sering mengajaknya berbincang tentang apa saja di samping selalu sigap mengerjakan setiap ia membutuhkan bantuan. Hingga hubungan kami semakin akrab dari waktu ke waktu. Sampai suatu malam, memasuki hari kelima kami berada di rumah sakit, saat itu hujan terus mengguyur sejak sore hari. Maka orang-orang yang menunggui pasien yang dirawat di ruang ICU, sejak sore telah mengkapling-kapling teras luar bangunan ICU. Maklum, di malam hari penunggu tidak boleh memasuki bagian dalam ruang ICU. Dan pasien biasanya memanfaatkan teras yang ada untuk tiduran atau duduk mengobrol. Dan malam itu, karena guyuran hujan, lahan untuk tidur jadi menyempit karena pada beberapa bagian tempias oleh air hujan.

Sementara aku dan Bu Har yang baru mencari kapling setelah makan malam di kantin, menjadi tidak kebagian tempat. Setelah mencari cukup lama, akhirnya aku mengusulkan untuk menggelar tikar dan karpet di dekat bangunan kamar mayat. Aku mengusulkan itu karena jaraknya masih cukup dekat dengan ruang ICU dan itu satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk berteduh kendati cukup gelap karena tidak ada penerangan di sana. Awalnya Bu Har menolak, karena posisinya di dekat kamar mayat. Namun akhirnya ia menyerah setelah mengetahui tidak ada tempat yang lain dan aku menyatakan siap berjaga sepanjang malam. "Janji ya Rid (setelah cukup akrab Bu Har tidak mengembel-embeli sebutan Nak di depan nama panggilanku), kamu harus bangunkan ibu kalau mau kencing atau beli rokok. Soalnya ibu takut ditinggal sendirian," katanya. "Wah, persediaan rokokku lebih dari cukup kok bu. Jadi tidak perlu kemana-mana lagi," jawabku. Nyaman juga ternyata menempati kapling dekat kamar mayat. Bisa terbebas dari lalu-lalang orang hingga bisa beristirahat cukup tenang. Dan kendati gelap tanpa penerangan, bisa terbebas dari cipratan air hujan karena tempat kami menggelar tikar dan karpet terlindung oleh tembok setinggi sekitar setengah meter. Sambil tiduran agak merapat karena sempitnya ruang yang ada, Bu Har mengajakku ngobrol tentang banyak hal. Dari soal kerinduannya pada Dewi, anaknya yang hanya bisa pulang setahun sekali saat lebaran sampai ke soal penyakit yang diderita Pak hartono. Menurut Bu Har penyakit diabetis itu diderita suaminya sejak delapan tahun lalu. Dan karena penyakit itulah penyakit radang lambung yang datang belakangan menjadi sulit disembuhkan. "Katanya penyakit diabetes bisa menjadikan laki-laki jadi impotensi ya Bu?" "Kata siapa, Rid?" "Eh,.. anu, kata artikel di sebuah koran," jawabku agak tergagap. Aku merasa tidak enak berkomentar seperti itu terhadap penyakit yang diderita suami Bu Har. "Rupanya kamu gemar membaca ya. Benar kok itu, makanya penyakit kencing manis di samping menyiksa suami yang mengidapnya juga berpengaruh pada istrinya. Untung ibu sudah tua," ujarnya lirih. Merasa tidak enak topik perbincangan itu dapat membangkitkan kesedihan Bu Har, akhirnya aku memilih diam. Dan aku yang tadinya tiduran dalam posisi telentang, setelah rokok yang kuhisap kubuang, mengubah posisi tidur memunggungi wanita itu. Sebab kendati sangat senang bersentuhan tubuh dengan wanita itu, aku tidak mau dianggap kurang ajar. Sebab aku tidak tahu secara pasti jalan pikiran Bu Har yang sebenarnya. Tetapi baru saja aku mengubah posisi tidur, tangan Bu Har terasa mencolek pinggangku. "Tidurmu jangan memunggungi begitu. Menghadap ke sini, ibu takut," katanya lirih. Aku kembali ke posisi semula, tidur telentang. Namun karena posisi tidur Bu Har kelewat merapat, maka saat berbalik posisi tanpa sengaja lenganku menyenggol buah dada wanita itu. Memang belum menyentuh secara langsung karena ia mengenakan daster dan selimut yang menutupi tubuhnya. Malangnya, Bu Har bukannya menjauh atau merenggangkan tubuh, tetapi malah semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Seperti anak kecil yang ketakutan saat tidur dan mencari perasaan aman pada ibunya. Akhirnya, dengan keberanian yang kupaksakan - karena ku yakin saat itu Bu Har belum pulas tertidur - aku mulai mencoba-coba. Seperti yang dimauinya, aku mengubah kembali posisi tidur miring menghadapinya. Jadilah sebagian besar tubuhku merapat ketat ke tubuhnya hingga terasa kehangatan mulai menjalari tubuhku. Sampai di situ aku berbuat seolah-olah telah mulai lelap tertidur sambil menunggu reaksinya.

Reaksinya, Bu Har terbangkit dan menarik selimut yang dikenakannya. Selimut besar dan tebal itu ditariknya untuk dibentangkan sekaligus menutupi tubuhku. Jadilah tubuh kami makin berhimpitan di bawah satu selimut. Akhirnya, ketika aku nekad meremas telapak tangannya dan ia membalas dengan remasan lembut, aku jadi mulai berani beraksi lebih jauh. Kumulai dengan menjalari pahanya dari luar daster yang dikenakannya dengan telapak tanganku. Ia menggelinjang, tetapi tidak menolakkan tanganku yang mulai nakal itu. Malah posisi kakinya mulai direnggangkan yang memudahkanku menarik ke atas bagian bawah dasternya. Baru ketika usapan tanganku mulai menjelajah langsung pada kedua pahanya, kuketahui secara pasti ia tidak menolaknya. Tanganku malah dibimbingnya untuk menyentuh kemaluannya yang masih tertutup celana dalam. Seperti keinginanku dan juga keinginannya, telapak tanganku mulai menyentuh dan mengusap bagian membusung yang ada di selangkangan wanita itu. Ia mendesah lirih saat usapan tanganku cukup lama bermain di sana. Juga saat tanganku yang lain mulai meremasi buah dadanya dari bagian luar Bra dan dasternya. Sampai akhirnya, ketika tanganku yang beroperasi di bagian bawah telah berhasil menyelinap ke bagian samping celana dalam dan berhasil mencolek-colek celah kemaluannya yang banyak ditumbuhi rambut, dia dengan suka rela memereteli sendiri kancing bagian depan dasternya. Lalu seperti wanita yang hendak menyusui bayinya, dikeluarkannya payudaranya dari Bra yang membungkusnya. Layaknya bayi yang tengah kelaparan mulutku segera menyerbu puting susu sebelah kiri milik Bu Har. Kujilat-jilat dan kukulum pentilnya yang terasa mencuat dan mengeras di mulutku. Bahkan karena gemas, sesekali kubenamkan wajahku ke kedua payudara wanita itu. Payudara berukuran besar dan agak mengendur namun masih menyisakan kehangatan. Sementara Ia sendiri, sambil terus mendesis dan melenguh nikmat oleh segala gerakan yang kulakukan, mulai asyik dengan mainannya. Setelah berhasil menyelinap ke balik celana pendek yang kukenakan, tangannya mulai meremas dan meremas penisku yang memang telah mengeras. Kata teman-temanku, senjataku tergolong long size, hingga Ia nampak keasyikkan dengan temuannya itu. Tetapi ketika aku hendak menarik celana dalamnya, tubuhnya terasa menyentak dan kedua pahanya dirapatkan mencoba menghalangi maksudku. "Mau apa Rid,.. jangan di sini ah nanti ketahuan orang," katanya lirih. "Ah, tidak apa-apa gelap kok. Orang-orang juga sudah pada tidur dan tidak bakalan kedengaran karena hujannya makin besar." Hujan saat itu memang semakin deras.Entah karena mempercayai omonganku. Atau karena nafsunya yang juga sudah memuncak terbukti dengan semakin membanjirnya cairan di lubang kemaluannya, ia mau saja ketika celananya kutarik ke bawah. Bahkan ia menarik celana dalamnya ketika aku kesulitan melakukannya. Ia juga membantu membuka dan menarik celana pendek dan celana dalam yang kukenakan. Akhirnya, dengan hanya menyingkap daster yang dikenakannya aku mulai menindih tubuhnya yang berposisi mengangkang. Karena dilakukan di dalam gelap dan tetap dibalik selimut tebal yang kupakai bersama untuk menutupi tubuh, awalnya cukup sulit untuk mengarahkan penisku ke lubang kenikmatannya. Namun berkat bimbingan tangan lembutnya, ujung penisku mulai menemukan wilayah yang telah membasah. Slep.. penis besarku berhasil menerobos dengan mudah liang sanggamanya. Aku mulai menggoyang dan memaju-mundurkan senjataku dengan menaik-turunkan pantatku. Basah dan hangat terasa setiap penisku membenam di vaginanya. Sementara sambil terus meremasi kedua buah dadanya secara bergantian, sesekali bibirnya kulumat. Maka ia pun melenguh tertahan, melenguh dan mengerang tertahan. Ah, dugaanku memang tidak meleset tubuhnya memang masih menjanjikan kehangatan. Kehangatan yang prima khas dimiliki wanita berpengalaman. Dihujam bertubi-tubi oleh ketegangan penisku di bagian kewanitannya, Ia mulai mengimbangi aksiku. Pantat besar besarnya mulai digerakkan memutar mengikuti gerakan naik turun tubuhku di bagian bawah. Memutar dan terus memutar dengan gerak dan goyang pinggul yang terarah. Hal itu menjadikan penisku yang terbenam di dalam vaginanya serasa diremas. Remasan nikmat yang melambungkan jauh anganku entah kemana. Bahkan sesekali otot-otot yang ada di dalam vaginanya seolah menjepit dan mengejang. "Ah,.. ah.. enak sekali. Terus, ah.. ah," "Aku juga enak Rid, uh.. uh.. uh. Sudah lama sekali tidak merasakan seperti ini. Apalagi punyamu keras dan penjang. Auh,.. ah.. ah," Sampai akhirnya, aku menjadi tidak tahan oleh goyangan dan remasan vaginanya yang kian membanjir. Nafsuku kian naik ke ubun-ubun dan seolah mau meledak. Gerakan bagian bawah tubuhku kian kencang mencolok dan mengocok vaginanya dengan penisku. "Aku tidak tahan, ah.. ah.. Sepertinya mau keluar, shh, ah, .. ah," "Aku juga Rid, terus goyang, ya .. ya,.. ah," Setelah mengelojot dan memuntahkan segala yang tak dapat kubendungnya, aku akhirnya ambruk di atas tubuh wanita itu. Maniku cukup banyak menyembur di dalam lubang kenikmatannya. Begitupun Ia, setelah kontraksi otot-otot yang sangat kencang, ia meluapkan ekspresi puncaknya dengan mendekap erat tubuhku.

Dan bahkan kurasakan punggungku sempat tercakar oleh kuku-kukunya. Cukup lama kami terdiam setelah pertarungan panjang yang melelahkan. "Semestinya kita tidak boleh melakukan itu ya Rid. Apalagi bapak lagi sakit dan tengah dirawat," kata Ia sambil masih tiduran di dekatku. Aku mengira ia menyesal dengan peristiwa yang baru terjadi itu. "Ya Maaf,.. soalnya tadi,.." "Tetapi tidak apa-apa kok. Saya juga sudah lama ingin menikmati yang seperti itu. Soalnya sejak 5 tahun lebih Pak Har terkena diabetis, ia menjadi sangat jarang memenuhi kewajibannya. Bahkan sudah dua tahun ini kelelakiannya sudah tidak berfungsi lagi. Cuma, kalau suatu saat ingin melakukannya lagi, kita harus hati-hati. Jangan sampai ada yang tahu dan menimbulkan aib diantara kita," ujarnya lirih. Plong, betapa lega hatiku saat itu. Ia tidak marah dan menyesal dengan yang baru saja terjadi. Dan yang membuatku senang, aku dapat melampiaskan hasrat terpendamku kepadanya. Kendati aku merasa belum puas karena semuanya dilakukan di kegelapan hingga keinginanku melihat ketelanjangan tubuhnya belum kesampaian. Dan seperti yang dipesankannya, aku berusaha mencoba bersikap sewajar mungkin saat berada diantara orang-orang. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang luar biasa diantara kami. Kendati aku sering harus menekan keinginan yang menggelegak akibat darah mudaku yang gampang panas saat berdekatan dengannya. Dan sejak itu lokasi teras di belakang kamar mayat menjadi saksi sekitar tiga kali hubungan sumbang kami. Hubungan sumbang yang terpaksa kuhentikan seiring kedatangan Bu Hartini, adik Pak hartono yang bermaksud menengok kondisi sakit kakaknya. Hanya terus terang, sejak kehadirannya ada perasaan kurang senang pada diriku. Sebab sejak Ia ada yang menemani merawat suaminya di rumah sakit, kendati aku tetap diminta untuk membantu mereka dan selalu berada di rumah sakit, aku tidak lagi dapat menyalurkan hasrar seksualku. Hanya sesekali kami pernah nekad menyalurkannya di kamar mandi ketika hasrat yang ada tak dapat ditahan. Itu pun secara kucing-kucingan dengan Bu Tini dan segalanya dilaksanakan secara tergesa-gesa hingga tetap tidak memuaskan kami berdua. Sampai suatu ketika, saat Pak Har telah siuman dan perawatannya telah dialihkan ke bangsal perawatan yang terpisah, Bu Tini menyarankan kepada Ia untuk tidur di rumah. "Kamu sudah beberapa hari kurang tidur Mbak, kelihatannya sangat kelelahan. Coba kamu kalau malam tidur barang satu dua hari di rumah hingga istirahat yang cukup dan tidak jatuh sakit. Nanti kalau kedua-duanya sakit malah merepotkan. Biar yang nunggu Mas Har kalau malam aku saja diteman Dik Rido kalau mau" ujarnya. Ia setuju dengan saran adik iparnya. Ia memutuskan untuk tidur di rumah malam itu. Maka hatiku bersorak karena terbuka peluang untuk menyetubuhinya di rumah. Tetapi bagaimana caranya pamit pada Bu Tini? Kalau aku ikut-ikutan pulang untuk tidur di rumah apa tidak mengundang kecurigaan? Aku jadi berpikir keras untuk menemukan jalan keluar. Dan baru merasa plong setelah muncul selintas gagasan di benakku. Sekitar pukul 22.00 malam, lewat telepon umum kutelepon rumahnya. Wanita itu masih terjaga dan menurut pengakuannya tengah menonton televisi. Maka nekad saja kusampaikan niatku kepadanya.

Dan ternyata ia memberi sambutan cukup baik. "Kamu nanti memberi tanda kalau sudah ada di dekat kamar ibu ya. Nanti pintu belakang ibu bukakan. Dan sepeda motornya di tinggal saja di rumah sakit biar tidak kedengaran tetangga. Kamu bisa naik becak untuk pulang," katanya berpesan lewat telepon. Untuk tidak mengundang kecurigaan, sekitar pukul 23.00 aku masuk ke bangsal tempat Pak Har dirawat menemani Bu Tini. Namun setengah jam sesudahnya, aku pamit keluar untuk nongkrong bersama para Satpam rumah sakit seperti yang biasa kulakukan setelah kedatangan Bu Tini. Di depan rumah sakit aku langsung meminta seorang abang becak mengantarku ke kampungku yang berjarak tak lebih dari satu kilometer. Segalanya berjalan sesuai rencana. Setelah kuketuk tiga kali pintu kamarnya, kudengar suara Ia berdehem. Dan dari pintu belakang rumah yang dibukakannya secara pelan-pelan aku langsung menyelinap masuk menuju ruang tengah rumah tersebut. Rupanya, bertemu di tempat terang membuat kami sama-sama kikuk. Sebab selama ini kami selalu berhubungan di tempat gelap di teras kamar mayat. Maka aku hanya berdiri mematung, sedang Ia duduk sambil melihat televisi yang masih dinyalakannya. Cukup lama kami tidak saling bicara sampai akhirnya Ia menarik tanganku untuk duduk di sofa di sampingnya. Setelah keberanianku mulai bangkit, aku mulai berani menatapi wanita yang duduk di sampingku. Ia ternyata telah siap tempur. Terbukti dari daster tipis menerawang yang dikenakannya, kulihat ia tidak mengenakan Bra di baliknya. Maka kulihat jelas payudaranya yang membusung. Hanya, ketika tanganku mulai bergerilya menyelusuri pangkal paha dan meremasi buah dadanya ia menolak halus. "Jangan di sini Rid, kita ke kamar saja biar leluasa," katanya lirih. Ketika kami telah sama-sama naik ke atas ranjang besar di kamar yang biasa digunakan oleh suami dan dia, aku langsung menerkamnya. Semula Ia memintaku mematikan dulu saklar lampu yang ada di kamar itu, tetapi aku menolaknya. "Saya ingin melihat semua milikmu," kataku. "Tetapi aku malu Rid. Soalnya aku sudah tua,." Persetan dengan usia, dimataku, Ia masih menyimpan magnit yang mampu menggelegakkan darah mudaku. Sesaat aku terpaku ketika wanita itu telah melolosi dasternya. Dua buah gunung kembarnya yang membusung nampak telah menggantung. Tetapi tidak kehilangan daya pikatnya. Buah dada yang putih mulus dan berukuran cukup besar itu diujungnya terlihat kedua pentilnya yang berwarna kecoklatan. Indah dan sangat menantang untuk diremas. Maka setelah aku melolosi sendiri seluruh pakaian yang kukenakan, langsung kutubruk wanita yang telah tiduran dalam posisi menelentang. Kedua payudaranya kujadikan sasaran remasan kedua tanganku. Kukulum, kujilat dan kukenyot secara bergantian susu-susunya yang besar menantang. Kesempatan melihat dari dekat keindahan buah dadanya membuat aku seolah kesetanan. Dan Ia, wanita berhidung bangir dengan rambut sepundak itu menggelepar. Tangannya meremas-remas rambut kepalaku mencoba menahan nikmat atas perbuatan yang tengah kulakukan. Dari kedua gunung kembarnya, setelah beberapa saat bermain di sana, dengan terus menjulurkan lidah dan menjilat seluruh tubuhnya kuturunkan perhatianku ke bagian perut dan di bawah pusarnya. Hingga ketika lidahku terhalang oleh celana dalam yang masih dikenakannya, aku langsung memelorotkannya. Ah, vaginanya juga tak kalah indah dengan buah dadanya. Kemaluan yang besar membusung dan banyak ditumbuhi rambut hitam lebat itu, ketika kakinya dikuakkan tampak bagian dalamnya yang memerah. Bibir vaginanya memang nampak kecoklatan yang sekaligus menandakan bahwa sebelumnya telah sering diterobos kemaluan suaminya. Tetapi bibir kemaluan itu belum begitu menggelambir. Dan kelentitnya, yang ada di ujung atas, uh,.. mencuat menantang sebesar biji jagung. Tak tahan cuma memelototi lubang kenikmatan wanita itu, mulailah mulutku yang bicara. Awalnya mencoba membaui dengan hidungku. Ah, ada bau yang meruap asing di hidungku. Segar dan membuatku tambah terangsang. Dan ketika lidahku mulai kumainkan dengan menjilat-jilat pelan di seputar bibir vaginanya besar itu, Ia tampak gelisah dan menggoyang-goyang kegelian. "Ih,.. jangan diciumi dan dijilat begitu Rid. Malu ah, tapi, ah..ah.. ah," Tetapi ia malah menggoyangkan bagian bawah tubuhnya saat mulutku mencerucupi liang nikmatnya. Goyangannya kian kencang dan terus mengencang. Sampai akhirnya diremasnya kepalaku ditekannya kuat-kuat ke bagian tengah selangkannya saat kelentitnya kujilat dan kugigit kecil. Rupanya ia telah mendapatkan orgasme hingga tubuhnya terasa mengejang dan pinggulnya menyentak ke atas. "Seumur hidup baru kali ini vaginaku dijilat-jilat begitu Rid, jadinya cepat kalah. Sekarang gantian deh Aku mainkan punyamu," ujarnya setelah sebentar mengatur nafasnya yang memburu. Aku dimintanya telentang, sedang kepala dia berada di bagian bawah tubuhku. Sesaat, mulai kurasakan kepala penisku dijilat lidah basah milik wanita itu. Bahkan ia mencerucupi sedikit air maniku yang telah keluar akibat nafsu yang kubendung. Terasa ada senasi tersendiri oleh permainan lidahnya itu dan aku menggelinjang oleh permainan wanita itu. Namun sebagai anak muda, aku merasa kurang puas dengan hanya bersikap pasif. Terlebih aku juga ingin meremas pantat besarnya yang montok dan seksi. Hingga aku menarik tubuh bagian bawahnya untuk ditempatkan di atas kepalaku. Pola persetubuhan yang kata orang disebut sebagai permainan 69. Kembali vaginanya yang berada tepat di atas wajahku langsung menjadi sasaran gerilya mulutku. Sementara pantat besarnya kuremas-remas dengan gemas. Tidak hanya itu jilatan lidahku tidak berhenti hanya bermain di seputar kemaluannya. Tetapi terus ke atas dan sampai ke lubang duburnya. Rupanya ia telah membersihkannya dengan sabun baik di kemaluannya maupun di anusnya. Maka tak sedikit pun meruap bau kotoran di sana dan membuatku kian bernafsu untuk menjilat dan mencoloknya dengan ujung lidahku. Tindakan nekadku rupanya membuat nafsunya kembali naik ke ubun-ubun. Maka setelah ia memaksaku menghentikan permainan 69, ia langsung mengubah posisi dengan telentang mengangkang. Dan aku tahu pasti wanita itu telah menagih untuk disetubuhi. Ia mulai mengerang ketika batang besar dan panjang milikku mulai menerobos gua kenikmatannya yang basah. Hanya karena kami sama-sama telah memuncak nafsu syahwatnya, tak lebih dari 10 menit saling genjot dan menggoyang dilakukan, kami telah sama-sama terkapar. Ambruk di kasur empuk ranjang kenikmatannya. Ranjang yang semestinya tabu untuk kutiduri bersama wanita itu. Malam itu, aku dan dia melakukan persetubuhan lebih dari tiga kali. Termasuk di kamar mandi yang dilakukan sambil berdiri. Dan ketika aku memintanya kembali yang keempat kali, ia menolaknya halus. "Tubuh ibu cape sekali Rid, mungkin sudah terlalu tua hingga tidak dapat mengimbangi orang muda sepertimu. Dan lagi ini sudah mulai pagi, kamu harus kembali ke rumah sakit agar Bu Tini tidak curiga," katanya. Aku sempat mencium dan meremas pantatnya saat Ia hendak menutup pintu belakang rumah mengantarku keluar. Ah,.. indah dan nikmat rasanya. Usia Pak Har ternyata tidak cukup panjang. Selama sebulan lebih dirawat di rumah sakit, ia akhirnya meninggal setelah sebelumnya sempat dibawa RS yang lebih besar di Semarang. Di Semarang, aku pun ikut menunggui bersamanya serta Bu Tini selama seminggu. Juga ada Mbak Dewi dan suaminya yang menyempatkan diri untuk menengok. Hingga hubunganku dengan keluarga itu menjadi kian akrab. Namun, hubungan sumbangku dengannya terus berlanjut hingga kini. Bahkan kami pernah nekad bersetubuh di belakang rumah keluarga itu, karena kami sama-sama horny sementara di ruang tengah banyak sanak famili dari keluarganya yang menginap. Entah kapan aku akan menghentikannya, mungkin setelah gairahnya telah benar-benar padam. Sekian cerita tante kali ini komunitas Tante girang akan selalu update tentang cerita cerita seks yang lebih hangat dan tentu menghibur anda. Selamat menikmati.

Ibu kost Tante girang ku

Tante girang memang cerita yang tak pernah habis, apalagi kehidupan tante tante saat ini seolah bukan lagi menjadi rahasia ketika ia adalah seorang tante nakal yang doyan brondong. Tante girang kali ini adalah cerita tentang tante girang standar biasa, yang gak glamour. Dia adalah Ibu kost ku sendiri. Inilah cerita Ibu kost Tante girang ku. Ruang yang dia minta dan bangun adalah gudang disebelah garasi mobil. Dengan selera anak mudanya dia atur interior ruangan itu seenak perutnya. Setengah selesai penataan ruang yang akhirnya jadi kamar yang cukup besar itu, sekali lagi Yoyok menawarkan diri agar saya mau tinggal bersamanya. Saat itu Ibu Reni, hanya senyum-senyum saja. seperti dulu-dulupun saya menolaknya. Gengsi dikitlah, sebab ikut tinggal dirumah Bu Reni berarti semuanya serba gratis, itu artinya hutang budi, dan artinya lagi : ketergantungan. Biar saya suka pusing mikirin uang kost bulanan, makan sehari-hari atau nyuci pakaian sendiri, sedikitnya dikamar kostku saya seperti manusia merdeka. Lha wong saya bayar!. Tapi hari itu, entah karena bujukan mereka, atau karena sayangku juga pada mereka dan sebaliknya sayang mereka padaku selama ini. Akhirnya saya terima juga tawaran itu, dengan perjanjian bahwa saya tidak mau serba gratis. saya maunya bayar, walaupun uang bayaran kostku itu ibarat ngencingin kolam renang buat Bu Reni yang memang kaya itu. Toh selama ini saya menganggap rumah Bu Reni ini rumah kostku yang kedua, sebelumnya sering juga saya nginap dan nongkrong hampir setiap hari disini. Ada satu hal sebenarnya yang ikut juga menghalangiku selama ini menolak tawaran Yoyok atau Bu Reni untuk tinggal dirumahnya. Entah kenapa saya yang anak muda begini, suka merasakan ada sesuatu yang aneh didada kalau bertatapan, ngobrol, bercanda, diskusi dan berdekatan dengan bu Reni. Perempuan yang selayaknya jadi tante atau bahkan ibuku itu. Buatku ibu Reni bukan hanya sosok perempuan cantik atau sedikitnya orang yang melihatnya akan menilai bahwa semasa gadisnya bu Reni adalah perempuan yang luar biasa. Bukan hanya sekedar bahwa sampai setua itu ibu Reni masih punya bentuk tubuh yang meliuk-liuk. Senyumnya, dada, pinggang, sampai kepinggulnya suka membuatku susah tidur dan baru lega jika saya beronani membayangkan bersetubuh dengannya. Jika saya beronani tidak cukup kalau cuma ngecret sekali saja. Gejala apa ini, apakah wajar saya terobsesi sosok perempuan yang tidak hanya sekedar cantik, tapi berintelegensi bagus, penuh kasih dan mature. Buatku secantik apapun perempuan jika tidak punya tiga unsur itu, hambar dalam selera dan pandanganku. Seperti sebuah buku kartun yang tolol dan tidak lucu saja layaknya. Malangnya ibu Reni memiliki semua itu, dan lebih malangnya lagi aku. Dibawah sadar sering saya diremas-remas iri dan cemburu jika melihat ibu Reni berbincang mesra atau melayani pak Hendra, suaminya. Begitu telaten dan indah. Gila!. Selama saya tinggal dirumah Bu Reni itu, pada awalnya semua biasa saja. Perhatian dan sayang Bu Reni kurasakan tak ada bedanya terhadapku dan Yoyok. Kupikir semua ini naluri keibuannya saja. Tetapi semua itu berjalan hanya sampai kurang lebih 4. Disuatu malam dari balik jendela kamarku kulihat beberapa kali ibu Reni keluar masuk rumah dengan gelisah menunggu Pak Hendra yang sampai jam 22.00 belum pulang. Sebentar dia kedalam sebentar keluar lagi, duduk dikursi, memandang kejalan dengan muka gelisah, membalik-balik majalah lalu masuk lagi. Keluar lagi. Kuperhatikan belakangan ini ibu Reni begitu murung. Ada masalah yang dia sembunyikan. Senyumnya sering kali getir dan terpaksa. Aku beranjak kekamar mandi untuk kencing. Buku Cerita Dewasa yang sedari tadi membuat kontolku ngaceng kugeletakan dimeja. Tapi begitu saya kembali ternyata bu Reni sudah duduk dikursi panjang di kamarku memegang buku itu. saya hanya meringis ketika bu Reni meledekku membaca buku cerita dewasa yang pas dicerita ah-eh-oh kertasnya saya tekuk. Sesaat setelah kami kehabisan bahan bicara, muka Bu Reni kembali mendung lagi. Dia berdiri, berjalan kesana sini dengan pelan tanpa suara merapikan apa saja yang dilihatnya berantakan. Sprei tempat tidur, buku-buku, koran, majalah, pakaian kotor dan asbak rokok.Ya maklum kamar bujanganlah. saya pindah duduk dikursi panjang lantas mematung memperhatikannya. Seperti tanpa kedip. Semua yang dilakukannya adalah keindahan seorang perempuan, seorang ibu. Setelah selesai, sejenak bu Reni hanya berdiri, melihat jam didinding lalu menatapku dengan mata yang kosong. saya coba untuk tersenyum sehangat mungkin. Bu Reni duduk disampingku. Mukanya yang tetap murung akhirnya membuatku berani bicara mengomentari sikapnya belakangan ini dan bertanya kenapa?. Bu Reni tersenyum hambar, menggeleng-gelengkan kepala, diam, menunduk, menarik napas dalam dan melepasnya dengan halus. Sunyi. Seperti ingin to the point saja, bu Reni menceritakan masalah dengan suaminya. Seperti kampung yang diserbu provokator dan perusuh saja, otakku tercabik-cabik, terbuka.Hubungan bu Reni dengan suaminya selama ini ternyata semuanya penuh kepura-puraan. Kemesraan mereka semu tak bernurani, bagai sebuah ruangan setengah kosong, dan setengahnya lagi sekedar keterpaksaan pelaksanaan kewajiban saja. Bu Reni berada didalamnya. Suaminya tahu tapi seperti sengaja membiarkannya memikir, menghadapi dan menyelesaikannya sendiri. Menerima keadaan. Entah karena kesepian, butuh orang sebagai tumpahan hatinya yang kesal dan rasa disia-siakan. Bu Reni menceritakan bahwa pak Hendra sudah lama mempunyai istri simpanan disebuah perumahan mewah dipinggir kota. Tak pernah hal ini dia ceritakan kepada siapapun juga kepada anaknya sendiri mbak Clara di Jakarta. Sama dengan kebanyakan istri-istri pejabat yang walaupun tahu suaminya punya simpanan perempuan, bu Reni hanya bisa menahan hati. Konon katanya, justru sebenarnya banyak istri pejabat yang malah mencarikan perempuan khusus untuk dijadikan simpanan suaminya sendiri, demi keamanan nama baik” dan jabatan. Biar sisuami tidak asal hantam dan makan sembarang wanita. Toh, Istri tahu atau tidak, terima atau tidak, si suaminya dengan jabatan, uang dan kelelakiannya dapat melakukan apa saja pada perempuan-perempuan yang mau. Semua itu seperti permaisuri yang mencarikan selir untuk suaminya sendiri. “Dia ingin punya anak laki-laki Win (Win nama palsu gua, mau yang asli tanya dukun santet!)” Begitu ucap Bu Reni malam itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Dulu bu Reni memang suka bercerita betapa inginnya dia punya anak laki-laki yang banyak. Dia suka menyesali diri kenapa Tuhan hanya memberinya satu anak saja. “Apakah itu alasan yang wajar Win” Ucapnya lagi. Kedua tanganya memegang tangan kananku dan matanya yang memelas lurus menatapku. Seolah meminta dukungan bahwa kelakuan Pak Hendra salah. saya bingung. Mau ngomong apa, seribu kata aduk-adukan diotak hingga saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Diluar dugaanku, tangis bu Reni malah meledak tertahan. Dia jatuhkan mukanya kepundak kiriku. saya bingung, tapi naluri lelakiku berkata dia teraniaya dan butuh perlindungan, hingga akhirnya tanganku begitu saja merengkuhnya. Bu Reni malah membenamkan wajahnya kedadaku. saya elus-elus punggungnya dan dengan pipiku kugesek-gesek rambutnya agar dia tenang. Kucium wangi parfum dari tubuh dan rambutnya. Sesaat rasanya, sampai akhirnya Bu Reni menarik mukanya dan memandangiku dengan senyumnya yang gusar. saya ikut tersenyum. Ada malu, ada rasa bersalah, ada pertanyaan ada kehausan dimata Bu Reni, dan ada yang menyesakan dadanya. Entah rasa sayang atau sekedar untuk menetralisir hatinya, saya usap air matanya dengan jariku. Bu Reni hanya diam setengah bengong menatapku. Hening. Sepi. “Ibu bahagia sekali win kamu mau tinggal disini. Entah bagaimana rasanya rumah ini kalau tak ada kamu dan Yoyok. Sepi. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Mungkin ibu bisa mati ngenes dirumah sebesar ini” Ucap Bu Reni pelan tertunduk murung. “Kenapa ibu baru menceritakannya sekarang?” Ucapku. “Untuk apa?” Ucap bu Reni menggeleng-geleng. “Setidaknya beban ibu dapat berkurang” “Buat ibu cukup melihat kamu dan Yoyok ceria dan bahagia dirumah ini. Kalianlah yang justru membuat ibu betah dirumah. Untuk apa ibu harus mengurangi semua itu dengan masalah ibu. Ibu sayang pada kalian”Ucap Bu Reni sambil memegang jari tanganku. saya membalasnya dengan meremas jari jemarinya pelan. “Kamu sayang pada ibu kan win? Tanya Bu Reni menatapku. saya menggangguk tersenyum. Bu Reni tersenyum bahagia. Lalu entah kenapa saya nekat begitu saja mendekatkan mukaku, mencium kening dan pipinya dengan lembut. Kulihat wajah Bu Reni yang surprise tapi diam saja. “Bu Reni marah?” tanyaku. Dia menggeleng-geleng dan malah balas menciumku, menyenderkan kepalanya miring dipundakku dan melingkarkan tangan kanannya dipinggangku. Kupeluk dia. Lama sekali rasanya kami saling berdiam diri. Tapi saya merasakan kedamaian yang luar biasa. Sampai akhirnya suara motor Yoyok yang katanya habis diskusi dikelompok studinya tiba dan suara pintu gerbang terbuka. Sejak kejadian malam itu hubunganku dengan Bu Reni jadi kian aneh. Mungkin awalnya hanya sekedar memperlihatkan rasa sayang dan cinta layaknya seorang anak pada ibunya dan sebaliknya. Walau dengan diam-diam disetiap kesempatan yang ada kami saling tidak menyembunyikan semua itu. Bertatapan dengan mesra, bercanda dan saling memperhatikan lebih dari dulu-dulu. Tapi seperti air yang tak diatur, semua mengalir begitu saja. Kian lama bu Reni dan saya berani saling mencium. Cium sayang dan lembut disetiap kesempatan yang ada tanpa seisi rumah tahu Tapi kegalauan dihatiku tetap saja tak dapat kuingkari. Sering saya bertanya sendiri : sayangku, cintaku, ciumanku dan pelukanku pada Bu Reni apakah manifestasi seorang anak pada sosok ibunya, atau seorang lelaki pada seorang perempuan. Hati dan otakku setiap hari dililit pertanyaan sialan itu. Begitu menjengkelkan. Semua itu berjalan sampai tak dapat kuingkari bahwa birahi selalu mengikutiku jika saya berdekatan dan mencium Bu Reni. Selama ini saya berusaha menekannya. Tapi itu meledak disuatu sore yang sepi. Semula saya hanya ingin meminjam koran yang biasanya tergeletak diruang keluarga rumah utama. Tapi saat kulihat Bu Reni tengah berdiri menikmati ikan-ikan hias aquariumnya. Tiba-tiba saya ingin menggodanya. saya berjingkat perlahan dan menutup kedua matanya dengan tanganku dari belakang. Ibu Reni kaget berusaha melepaskan tanganku. saya menahan tawa tetap menutup matanya. Tapi akhirnya Bu Reni mengenaliku juga. Kukendorkan tanganku. “Wiiiinnn kamu bikin kaget ibu saja akh..” Ucap Bu Reni tetap membelakangiku dan menarik kedua tanganku kedepan dadanya. Bu Reni bersandar didadaku. Kedua tanganku tepat mengenai payudaranya yang kurasakan empuk itu. Gelora aneh mengalir didarahku. Sementara Bu Reni terus mengomentari ikan-ikan didalam aquarium, saya justru memperhatikan bulu-bulu lembut dileher jenjangnya Rambutnya yang lurus sebahu saat itu tertarik keatas dan terjepit jepitan rambut, hingga leher bagus itu dapat kunikmati utuh. saya berdesir. Kurasakan napasku mulai berat. Dengan bibirku akhirnya kukecup leher itu. Bu Reni merintih kegelian dan mencubit lenganku dengan genit. “Hiiiii. Jangan Wiiinnnn akhhhh…Merinding ibu ah” Dekapan tanganku ditetek dan dadanya makin kuat. Ketika kuperhatikan dia tidak marah dan tenang maka kuulangi lagi kecupan itu berulang-ulang. Kumis dan bekas cukuran dijanggutku membuatnya geli. Tapi kurasakan tangan Bu Reni perlahan mencengkram erat dikedua jariku dan dia diam saja. saya makin bernapsu. Ciuman, kecupan dan hisapan bibirku makin menjadi-jadi keleher dan telinganya. Bu Reni mendesah memejamkan mata. Kepalanya bergerak-gerak mengikuti cumbuanku. Matanya terpejam dan napasnya menggelora. Kucari bibirnya, karena susah maka kuputar tubuhnya menghadapku dan langsung kusambar dengan bibirku. Kupeluk erat Bu Reni. Dia menggeliat membalas permainan bibirku. Kedua tangannya memegangi bagian belakang kepalaku seolah takut saya melepaskan ciuman bibirku. Kuremas-remas teteknya dengan tangan kananku. Bu Reni melepaskan ciumannya lalu merintih-rintih dengan kepala terdongak kebelakang seolah memberikan lehernya untukku. Dengan bibirku langsung kuciumi leher itu. Tapi tiba-tiba Bu Reni setengah menghentakan badanku seperti tengah bangun dari mimpi dan shock dia berkata : “Ya Tuhan, Wiiinnn …apa yang kita lakukan?” Bu Reni menjauhiku dan menempelkan kepalanya kedinding menahan hati. Akupun bisu. Hening. lama sekali. saya kian gelisah. saya ingin keadaan itu berakhir. saya dekati bu Reni, memeluknya lagi. Kata-kata cinta meluncur begitu saja dari mulutku. Semua itu membuat bu Reni bingung. Menggeleng-gelengkan kepalanya dan berlari masuk kekamar menahan tangis. Beberapa hari sejak kejadian itu Bu Reni tidak menyapaku Dia selalu berusaha menghindariku. saya bingung, saya takut dia marah. saya takut dia menolak cintaku. saya takut gila, mencintai ibu kost sendiri, istri orang dan perempuan yang jauh lebih tua dariku. Ditolak pula. Bah!. saya mulai murung. Tapi itu hanya lebih kurang dua minggu. Hanya sampai pada suatu malam, bulan jatuh dipelukanku saat Bu Reni lembut menyapaku dan tanpa bicara sepatah katapun menciumiku. Bah!. Sedari dulu juga, jika dibalik ke”mature”annya sesekali kulihat kerling genitnya, adalah bukti bahwa sebenarnya sudah lama saya tak bertepuk sebelah tangan. Tapi Bu Reni takut bicara tentang cinta, bahwa dia sayang, merindukan dan membutuhkanku adalah iya. Selanjutnya kami selalu berusaha bersikap wajar didepan seisi rumah maupun tetangga. Satu hal yang pasti bahwa kami bisa dengan bebas saling bercerita tentang apa saja. Termasuk kebiasaanku beronani dengan membayangkan bersetubuh dengannya yang membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Sebaliknya dari bu Reni saya tahu, bahwa suaminya pak Sd itu aneh, diranjang bertempur tidak pernah menang tapi malah punya simpanan. Untuk mencapai orgasme jika bersetubuh dengan suaminya dia sering membayangkan bersetubuh denganku. Gila. Kami terus mengalir tanpa halangan yang berarti. Maksudku tanpa tindak-tanduk yang dapat menimbulkan kecurigaan orang seisi rumah maupun tetangga. Sampai suatu hari Pak Rudi tetangga kami yang tinggal 6 rumah dari kami melangsungkan pernikahan anaknya. Seharian itu saya dirundung napsu dan cemburu. Seperti biasanya jika dilingkungan perumahan itu ada pernikahan maka Pak Hendra dan Bu Reni akan menjadi penerima tamu. Pak Hendra akan berbaju beskap, berjarik, blangkon dan berkeris. Bu Reni akan berkebaya, berjarik dan berselendang dengan rambut konde yang rapi. Bu Reni sendiri tahu bahwa dengan pakaian seperti itulah seringkali saya mengungkapkan kekagumanku atas kecantikan dan sex apple yang ditimbulkannya. Rasanya saya gelisah terus melihat kesintalan tubuh Bu Reni yang terlilit pakaian adat jawa yang ketat itu. Jika berjalan pinggulnya bergoyang-goyang mengundang sensasi. Beberapakali kutebar pandanganku berkeliling, selalu saja kulihat ada mata tamu pria entah muda, entah tua ada yang tengah melirik atau memperhatikannya. Semua itu membuatku pingin marah saja rasanya. Tetapi sebelum seremoni perkawinan itu usai tiba-tiba pembantu Bu Reni, yang biasanya saya panggil mbak Suti datang mengabarkan bahwa barusan dia terima telepon dirumah yang mengabarkan adik Pak Hendra yang tinggal di kota P mengalami kecelakaan lalu lintas. Pak Hendra, Bu Reni, Yoyok, Mbak Suti dan saya akhirnya pamit pulang duluan pada pak Falcon. Sampai dirumah, Pak Hendra dan Ibu Reni menelepon balik ke kota P melakukakn konfirmasi berita. Adik pak Hendra bersama Dorti anaknyalah yang mengalami kecelakaan. Mobilnya tertabrak bis antar kota yang selip. Dua-duanya masuk UGD rumah sakit dan Pak Hendra sebagai anak tertua dikeluarganya diminta datang. Teman sekamarku Yoyok sendiri ingin ikut nengok. Yoyok naksir berat pada Dorti, pernah menyatakan cinta dua kali. Tapi dua kali pula Dorti menolak. Sementara Ibu Reni sendiri harus tetap tinggal karena besok pagi ada tim BPKP dari Jakarta yang akan datang melakukan audit dikantornya. Ibu Reni key person yang harus ada. Pak Hendra dan Yoyok berangkat ke kota P dengan mobilnya dan akan mampir kerumah pak Sarmin supirnya dulu untuk diajak berangkat. Aku, Bu Reni dan Mbak Suti ngobrol sebentar membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada adik pak Hendra dan anaknya. Sampai mbak Suti menguap beberapa kali. Selama ngobrol tak pernah mataku lepas dari busungnya dada Bu Reni dengan teteknya yang montok dan sedikit terlihat. Mbak Suti langsung pamit tidur. Tinggallah saya diruang tengah itu, sendiri, melamun. Sekian lama hubungan kami berjalan. Selama ini kami hanya sampai batas berpelukan, berciuman, saling tindih diranjang dengan napas yang menderu-deru dan berujung orgasme tanpa coitus. Entah berapa kali kontolku menekan-nekan dan menggesek-gesek dimemeknya yang basah bercelana. Entah berapakali pejuhku membasahi celana dalamku sendiri dan celana dalam Bu Reni. Lantas walaupun kontolku belum pernah sekalipun masuk kememeknya, kecuali hanya menggesek-gesek dan saya orgasme, masih perjakakah aku?. Langkah Bu Reni terdengar dan terus kupandangi sekujur tubuhnya yang semampai melenggok-lenggok, dari kepala sampai kaki ketika dia berjalan kearahku. Stagen dipinggangnya sudah tak ada hingga perutnya sedikit terlihat. Dadaku berdebar-debar. Berkali kali kutelan ludah. “Kamu melihat ibu, kaya ibu ini apaan sih?!”ucap Bu Reni genit mengibaskan tangan kanan dimukaku. “Ibu cantik sekali, makin sexy, sexy sekali berkebaya dan saya terangsang sekali” Ucapku asal saja menunjuk kekontolku. “Hus. Sekali, sekali. Daripada melamun sini pijitin ibu” Ucap Bu Reni duduk membelakakingiku dan menepuk pundaknya. saya pijit kedua pundaknya perlahan-lahan. Bu Reni kadang menggeliat keenakan. Makin lama pijitanku makin turun, kepunggungnya, ke tulang-tulang rusuknya, kepinggangnya. Tak lama kutarik pundaknya dan kusandarkan punggungnya kedadaku, kutempelkan pipi kananku kepipi kirinya. Lalu kupijit kedua pahanya, kuelus-elus dan kuremas-remas sampai kepinggulnya. Bu Reni memejamkan matanya. Pijitan bercampur elusan kedua tanganku merambat naik dan berhenti didadanya untuk meremas-remas buah dada yang kurasakan besar dan kenyal itu. Mukaku kugesek-gesekan dirambut dan kondenya, pipinya, dan kukulum-kulum telinganya. Deru napas Bu Reni mulai tak teratur kadang diselingi desahan halus. Tangan kanannya mencoba meraih kepalaku, kadang mencengkram lembut rambutku. Telapak tangan kirinya digosok-gosokan kepipi kiriku. Remasan tanganku ke buah dadanya makin liar, mukaku meliuk-liuk menciumi apa saja dikepalanya. Kubuka kancing baju kebayanya. Sembulan sepertiga buah dada dari BHnya indah sekali. saya makin terangsang. Kontolku yang ngaceng sejak tadi ingin meledak rasanya. Ku tarik baju kebayanya turun kebelakang hingga pundak dan lehernya bebas kuciumi dan jilati. Ibu Reni mengerang nikmat. Kulingkarkan kedua tanganku memeluknya erat-erat. Bibir Bu Reni yang setengah terbuka kusambar dengan bibirku dan kukulum habis. Ujung lidah kami beradu, kutelusuri lidahnya sampai seberapa jauh dapat masuk, kerongga-rongga mulutnya. Begitu kami bergantian. Aku dan Bu Reni mulai tak tahan, kurebahkan dia disofa. Kutelusuri tubuhnya, kuciumi dari muka, dada, perut paha, dan betisnya yang masih dibalut kain jarik. Naik lagi dan kutindih Bu Reni. Erangannya makin merangsangku. Kubuka ikat pinggangnku. “Jangan disini sayang. Nanti kalau Suti bangun…..”Tiba-tiba ucap Bu Reni tak menyelesaikan kalimatnya. Kami berdiri. Bu Reni melepas resleting celanaku, memasukan tangannya kecelana dalamku dan meremas-remas kontolku yang tegang dengan geregetan. “Heeeemmmmmm” Ucapnya lalu membimbingku masuk kekamarnya berjalan mundur dengan memegang dan menarik kontolku. Itu membuat kami tertawa. Pintu kamar dikuncinya cepat-cepat. Kubuka bajuku dan Bu Reni setengah menunduk membuka celanaku lalu mencari kontolku. Begitu dapat langsung dimasukan kemulutnya, dijilati dihisap-hisap, diciumi dan kadang dikocok-kocok dengan tangannya. Yang begini belum pernah dia lakukan. Aliran kenikmatan merambat sampai ubun-ubun kepalaku. saya memberinya isyarat agar melepaskan kontolku. saya dipuncak napsu dan ingin memasukan kontolku langsung saja kememeknya, tapi dia menolak. Badanku rasanya makin bergetar dengan tulang yang mau berlepasan dan syaraf-syaraf ditubuhku rasanya kelojotan nikmat. Bu Reni begitu bernapsu dan nikmat memainkan kontolku dimulutnya Aku tak tahan dan minta rebahan diranjang. Bu Reni melepas baju kebayanya. Dengan tetap BH masih didada dan kain jariknya yang belum terlepas, mulutnya langsung mengejar burung pusakaku sampai dua biji telornyapun dia cium, jilat dan hisap. Aku makin bergelinjang, melayang-layang nikmat. Hingga dipuncaknya, saya tak sempat lagi memberitahunya kalau pejuhku mau keluar. Hingga akkhh…crott…crooot. Crroott. Pejuhku muncrat didalam mulut Bu Reni. Tapi Bu Reni justru malah bernapsu, menelannya dan terus menghisap-hisap kontolku sampai bersih, kasat dan ngilu rasanya. saya terkejut. Bangun terduduk. “Ibu telan?….Apa ibu tidak jijik?”Tanyaku bodoh. Ibu Reni menggeleng, justru mukanya cerah, kepuasan terpancar diwajahnya. Aneh pikirku. “Orang bilang, meminum air mani perjaka akan membuat perempuan awet muda. Lepas betul atau tidak yang terang ibu sudah mencobanya barusan sayang”Ucap Bu Reni lalu menciumiku dari muka sampai dadaku, sementara tangan kanannya terus meremas-remas kontolku. “Ayo lagi sayang, ibu pingin kamu puas” Ucap Bu Reni mesra. Kontolku yang tadi terkulai karena sudah keluar pejuh dan shock mulai menegang lagi akhirnya. Bu Reni kembali mengulum dan menghisap-isap kontolku. “Kalau ibu masih pingin, ambil semua pejuh saya “Ucapku Ibu Reni tersenyum. Kubuka BHnya dan kutarik lilitan kain jariknya. Bu Reni berdiri untuk memudahkan melepas kain jariknya. Tubuhnya yang telanjang bulat langsung kuterkam, kurebahkan dan kutindih. Dua teteknya yang besar itu kuhisap-hisap putingnya bergantian. Tangan kananku menggosok-gosok memeknya. Kuciumi, kujilati dan kuhisap-hisap semua bagian yang menurut instingku bisa membangkitkan gairahnya. Bibir, lidah, telinga, kuping leher, tetek, perut, pusar, paha, memek, betis sampai ke jari dan telapak kakinya. Tubuh Bu Reni bergelinjangan tak karuan dadanya naik-turun kelojotan. Tangan kirinya meremas-meremas teteknya dan tangan kanannya menggosok-gosok memeknya sendiri. Konde rambut Bu Reni hampir terlepas. Mulutku naik lagi keatas menyusuri betis dan paha hingga akhirnya berhenti dimemeknya. Dengan kedua tanganku kusibak pelan jembutnya. Kulihat belahan memeknya yang memerah berkilat dan bagian dalamnya ada yang berdenyut-denyut. Kuciumi dengan lembut, bahu dimemeknya membuat sensasi yang aneh. Tak pernah ada bahu seperti ini yang pernah kukenal rasanya. Dengan hidung kugesek-gesek belahan memek Bu Reni sambil menikmati aroma bahunya. Erangan dan gelinjangan tubuhnya terlihat seperti pemandangan yang indah menggairahkan. “AaaaKhhhk….Eeeekhhhh…enak sekali sayang. Teruuuuuusss sayang” Rintih Bu Reni. Kujulurkan lidahku, kujilat sedikit memeknya, ada rasa asin. Lalu dari bawah sampai atas kujulurkan lidahku menjilati belahan memeknya. Begitu seterusnya naik turun sambil melihat reaksi Bu Reni. “Akkhhh…….Akkkhhhhh…….Akkkhhhh hhhh…E nggh hh” Bu Reni terus merintih nikmat, tangannya mencari tangan kananku, meremas-remas jariku lalu membawanya ketoketnya. saya tahu dia ingin yang meremas teteknya adalah tanganku. Begitu kulakukan terus, tangan kananku’ meremas teteknya, mulutku menjilati dan menghisap-hisap memeknya, tangan kiriku mengelus-elus pinggang, paha sampai kebetisnya yang putih mulus dan halus itu. “Akkkhhhh…sudah sayang…sudah….ayo sekarang sayang ibu sudah tak tahan akkkhhhh….masukan sayang, masukan” Desah bu Reni mengerang meraih kepalaku agar menghentikan jilatan dimemeknya dan minta dikentot. Tanpa harus mengulangi lagi permintaannya langsung saja saya merangkak naik, menindih tubuh Bu Reni. Bu Reni melebarkan pahanya. Kontolku menuju memeknya. Beberapa kali kucoba, memasukan, beberapa kali pula gagal. saya tak tahu mana yang pas lobangnya, mana yang hanya belahan memek. Tapi tangan Bu Reni segera membantu, memegang kontolku, membimbing kedepan lobang memeknya lalu berkata “Ya itu sayang…disitu…tekan sayang tekan…disitu… aaakkkhhhh….ayo sayang…ibu tak tahan…ooo..akkkhhhh” Ibu Reni merintih ketika kontolku yang kutekan masuk seluruhnya kelobang memeknya. Sejenak tubuhku kaku, saya diam saja, saya nervous. Batang kontolku rasanya terjepit oleh dinding memek Bu Reni yang seperti berdenyut-denyut dan menghisap-hisap. Nikmat luar biasa. Ini yang pertama. Bu Reni menggoyang-goyangkan pinggulnya, setengah berputar putar dan kadang naik turun. Kontolku yang tertancap dimemeknya yang setengah becek dibuat seperti mainan yang membuatnya nikmat tak karuan. “Ayo sayang…ayo…bareng-bareng sayang…ibu mau keluar sayang…ayo..ayo…..”Rintih Bu Reni dengan mata setengah terpejam dan mulutnya yang terus terbuka mendesah-desah dan kian kuat menggoyang goyangkan pinggulnya. Akupun terus mengimbanginya sampai tiba-tiba Bu Reni seperti terdiam dan kedua tangannya merangkul leherku kuat-kuat dan dari mulutnya keluar desahan panjang : “Aakkkhhhhh……Oukhhhhhhhh….Engk hhhhhh…. ..” Bersamaan dengan rintih kepuasannya, denyutan dan hisapan memek Bu Reni makin kuat dan nikmat rasanya. Akupun sudah tak tahan lagi dan ingin agar pejuhku segera keluar. Karenanya kunaik turunkan kontolku, kuputar-putar dan kunaik-turunkan terus hingga akhirnya crooottt…crooootttt.. crroooot…. “Akhhh…………” Bersamaan dengan muncratnya pejuhku dimemeknya, kembali Bu Reni mendesah nikmat. Napasku memburu, saya lemas sekali rasanya. Sementara Bu Reni tetap menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan pelan dan tangannya mengelus-elus rambutku. Beberapa saat kubiarkan tubuhku menindih tubuh bugil Bu Reni tanpa tangan atau dengkulku menahan beban badanku. Kontolku tetap menancap dimemeknya. Ketika ingin kucabut Bu Reni melarangnya. “Jangan sayang, jangan dicabut dulu, biarkan ibu memiliki dan menikmatinya, peluk…peluk…tetap tindihlah ibu sayang. Ibu puas, kamu puas sayang hemmmm?….enak sayang?….” Ucap Bu Reni sambil terus menciumiku. Malam itu kami habiskan tidur kelonan diranjang yang biasa Ibu Reni tidur dan ngentot dengan suaminya. Tapi sejak malam itu dan disetiap kesempatan yang ada kuentot pula Bu Reni diranjang yang sama. saya tak perlu lagi hanya beronani dengan membayangkan ngentot dengannya, begitupula Bu Reni tak perlu lagi hanya sekedar membayangkan ngentot denganku jika ia melayani suaminya. Kami baru ngentot dihotel jika salah satu dari kami sudah tak tahan lagi sementara kesempatan dirumah tak ada. Atau ketika obsesiku kumat untuk ngentot dengan Bu Reni dalam pakaian kebaya, kain jarik dan berkonde. Ini terkadang aneh, berlama-lama Bu Reni ke Salon rias, begitu selesai langsung ke Hotel dan kuobok-obok sampai berantakan. (Aneh ya?!.). Sering pula jika keadaan memungkinkan, Bu Reni suka menyelinap kekamarku untuk “fast sex“. Sex cepat dengan tetap masih berpakaian. Tandanya Bu Reni masuk kekamarku sudah tanpa celana dalam dan dipuncak napsu. Ini sering terjadi jika Bu Reni sedang butuh tapi Pak Hendra tak acuh terus tidur. Tentang memek Bu Reni, mungkin itu yang disebut memek empot ayam. Memek yang tak pernah kutemui pada semua perempuan (adik-adik, mbak-mbak, tante-tante dan ibu-ibu rumah tangga yang muda maupun tua) yang pernah kutiduri, sampai hari ini sekalipun diumurku yang 37 tahun. Demikian cerita tante girang kali ini, semoga menghibur buat anda, banyak lagi cerita yang kami punya tetap tunggu koleksi kami dengan update cerita yang lebih panas dan tentu membuat anda penasaran lagi. Sampai ketemu di postingan selanjutnya.

Lelaki Pemuas tante Girang Bag II



Cerita ini adalah lanjutan dari cerita gigolo sebelumnya yang menjadi pemuas seks tante girang.

Dua hari kemarin, saya benar-benar lelah, karena saya harus melayani Ci Virra. Siapakah Ci Virra? Ia adalah seorang warga keturunan. Ia seorang wanita karir. Umurnya sekitar 42 tahun. Tubuhnya gemuk dan nafsu seksnya sangat tinggi. Saya benar-benar kewalahan melayaninya. Tapi dia benar-benar kagum dengan kehebatan saya. Ia ketagihan, kapanpun kalau ia sedang horny, ia minta saya harus siap melayaninya.
Saya pasti akan menceritakan bagaimana hubungan saya dengan Ci Virra di lain waktu. Sekarang saya akan melanjutkan kisah saya dengan Mbak Ella. Masih ingat kan?
Seminggu sudah berlalu. Saya benar-benar merindukan Mbak Ella. Setiap hari kalau saya lagi horny, saya cuma bisa beronani dengan membayangkan tubuh seksinya. Entahlah, semenjak usia 12 tahun saya sudah sering beronani, dan yang menjadi fantasi seks saya pasti wanita-wanita dewasa. Saya lebih bergairah bila mengkhayalkan mereka. Dan khayalan itu pertama kali terwujud dengan Mbak Ella. Saya memang memiliki beberapa pacar, tapi tak ada gairah sedikitpun untuk ngeseks dengan mereka. Mungkin saya mengidap penyakit sindroum complex, kalau tidak salah.
Hari itu sekitar pukul 6 sore. Aku sedang di toko, sepi sekali, benar-benar BT. Tiba-tiba HPku berdering.
“Hallo sayang, apa kabar? Kangen ga sama Mbak? Kamu lagi ngapain?”, suara merdu yang sedang kutunggu-tunggu.
“Ah enggak kangen kok. Biasa aja tuh. Mbak lagi dimana?”
“Ih kamu jahat deh. Mbak lagi di Jakarta, di kafe XX. Mbak juga enggak kangen sama kamu, Mbak cuma kangen sama burung kamu. Apa burung kamu gak rindu sama sarangnya? Kesini yah? Mbak tunggu!”
“Ok deh Mbak, nanti saya suruh burung saya terbang kesana.”
Mbak Ella hanya tertawa. Aku pun segera menutup toko lalu bergegas mandi. Aku mambayangkan betapa indahnya malam nanti. Aku akan bertempur habis-habisan dengan Mbak Ella. Membayangkannya saja sudah nikmat, apalagi mencicipinya.
Sebelum jam 8 malam aku telah sampai di kafe itu. Setelah masuk ke dalam dari sudut kafe ada wanita sedang melambaikan tangan. Itulah Mbak Ella, wanita yang kurindukan selama ini. Dia tidak sendiri, disebelahnya ada seorang wanita lagi. Dari raut wajahnya terlihat kalau dia sudah berumur, mungkin hampir 50 tahun. Namun begitu ia terlihat begitu anggun dan berwibawa dengan menggunakan kemeja biru dan rok panjang.
Mbak Ella memperkenalkanku padanya. Ibu Lis namanya. Beliau adalah direktur utama di tempat Mbak Ella bekerja. Pantas saja kalau Mbak Ella terlihat begitu hormat padanya. Setelah lama berbincang-bincang, tiba-tiba saja Mbak Ella pamit pergi.
“Wan, Mbak pergi dulu ya, ada urusan mendadak, kamu tolong temani Ibu Lis ya!” Aku hanya menganggukkan kepala.
Setelah mencium keningku ia langsung pergi. Aku hanya terdiam dan menunduk karena kulihat Ibu Lis memperhatikanku dengan serius.
“Hey, kok diam aja. Jangan takut donk, memangnya Ibu mau menerkam kamu. Kita jalan yuk, cari udara segar.”
Aku hanya tertawa kecil ketika ia mencubit pipiku kemudian menggandeng tanganku keluar dari kafe itu. Selama dua jam kami keliling kota. Ibu Lis menceritakan pengalaman hidupnya, dari bisnis sampai keluarga. Kini ia telah menjanda dengan dua orang anak yang tinggal di luar negeri dan sudah menikah. Menurutnya semua telah diraihnya, kecuali satu, belaian hangat dan kasih sayang dari seorang pria. Suaminya telah meniggalkannya lima tahun yang lalu. Ah seperti yang kuduga akhirnya ia megutarakan maksudnya. Ia ingin malam ini aku mengobati kesepiannya, memuaskan hasrat biologis yang selama ini tersimpan. Ia akan memberikan apa yang kuminta asal aku dapat memuaskannya. Aku hanya mengganggukkan kepala, tak kusangka wanita yang sebelumnya terlihat begitu tegar, angkuh, kini menangis di depanku.
Tepat jam 12 kami check in di sebuah hotel mewah di kawasan kota. Begitu sampai di kamar, tak kusangka bagaikan macan kelaparan ia langsung menerkamku, menjatuhkanku diatas kasur. Dengan kasar ia melepas pakaianku, membuka celanaku, dan langsung memakan kontolku.
“Ah.. ohh pelan-pelan Bu, sakit nih, ohh.. hisap Bu, hisap!”
“Maaf Wan, ahh Ibu sudah lama gak ngemut barang yang enak ini. Kontolmu gede, panjang lagi, ohh beruntung sekali istri kamu nanti. Ehmm enak Wan.”
Ibu Lis memang hebat memanjakan kontolku. Baru sepuluh menit, sudah kurasakan lahar panas akan keluar. Kutekan kepalanya kedalam ketika pejuku keluar dan langsung masuk ke dalam mulutnya. Ia meminum seluruhnya, lalu membersihkan kontolku dengan lidahnya.
“Ahh enak Wan. Peju kamu nikmat sekali. Nanti kasih Ibu lagi ya?”
Kemudian ia berdiri dan melepaskan seluruh pakaiannya. Wow hebat juga, walaupun usianya hampir setengah abad, terlihat payudaranya yang besar hanya sedikit mengendur, kulit tubuhnya pun masih kencang, bulu-bulu kemaluannya juga terlihat rapi. Sepertinya ia merawat tubuhnya dengan baik.
Aku langsung menarik tangannya, kurebahkan ia, kuciumi senti demi senti tubuhnya. Kulumat vaginanya, kusedot, hisap, kadang kumainkan lidahku di itilnya. Sementara kedua tanganku memijat halus payudaranya. Belum sampai lima menit, ia menekan-nekan kepalaku, ia hendak orgasme, kutekan pangkal pahanya keras-keras. Ahh keluarlah cairan kenikmatannya, ia mengerang keras, kemudian kusedot habis cairan itu dan kubersihkan memeknya dengan lidahku.
Aku kemudian bangkit dan pergi ke kamar mandi. Entah kenapa, diruangan ber-AC itu badanku terasa panas, mugkin karena lelah berkeliling kota tadi. Aku pun mandi, kupikir sekalian memberi waktu bagi Ibu Lis untuk istirahat sebentar. Begitu keluar dari kamar mandi, kulihat tubuh mulus terpampang di depanku. Gairahku bangkit lagi, kudekati ia. Alamak, ternyata ia sudah tertidur, mungkin ia benar-benar lelah, tak tega hatiku untuk membangunkannya. Aku berpikir keras, gairahku makin memuncak. Akhirnya aku teringat Mbak Ella, aku menelponnya dan kuceritakan kejadiannya.
Ternyata ia sedang berada di sebuah apartemen di Jl.Gotot Subroto. Aku segera berpakaian dan meluncur kesana. Setengah jam kemudian aku sudah sampai disana. Aku benar-benar sudah tak tahan, ingin segera kulumat habis setiap jengkal tubuh mulus Mbak Ella.
Kuketuk perlahan kamar nomor 634. Terdengar langkah orang mendekat. Pintu pun dibuka, di depanku berdiri seorang wanita bertubuh gemuk berumur kira-kira 40 tahun. Ia hanya mengenakan daster tipis, dibalik dasternya itu terlihat kedua payudaranya, sangat besar tapi sudah kendur.
Aku dipersilahkan masuk. Ketika berjalan kedua belah pantatnya juga terlihat jelas, besar sekali.Sampai di dalam kulihat seorang wanita lagi kira-kira berumur sama sedang tidur telanjang di kasur.Ya ampun, ia tengah memainkan memeknya dengan tangan kanannya. Kedua jarinya disodok-sodok ke dalam lubang memeknya. Sementara tangan kirinya memeras kencang payudaranya sendiri.
Aku begitu terkesima melihatnya. Tiba-tiba saja wanita bertubuh gemuk yang tadi langsung mendorongku dan menjatuhkanku ke atas kasur. Ternyata ia sudah telanjang bulat. Sedikit ngeri dan takut, tapi juga lucu melihat tubuh gemuk telanjang di depanku. Lucu sekali, kedua pahanya begitu lebar, sampai-sampai memeknya tidak terlihat.
Wanita gemuk itu menindihku. Kemudian membuka paksa baju dan celanaku. Setelah telanjang, dengan rakus ia menciumi seluruh tubuhku. Ia memijat halus kontolku. Ah nikmat sekali pijatannya. Dengan cepat kontolku menegang keras. Ia pun langsung menelan habis, terkadang mengulum, menyedot, dan mengocok-ngocok kontolku.
Sepuluh menit kemudian ia bangkit dan mengangkangiku. Perlahan-lahan kontolku dibimbing masuk ke memeknya. Setelah masuk, ia diam saja, hanya matanya terpejam menikmati sesuatu barang yang besar memenuhi lubang kenikmatannya. Kemudian ia mulai memainkan pantatnya, turun naik perlahan, terkadang pinggulnya digoyang-goyang.
Tiba-tiba saja wanita kurus disampingku bangkit, dan langsung mengangkangiku diatas. Memeknya tepat berada di depan mukaku. Ia menunjuk kearah memeknya. Tanpa dikomando, aku langsung melumat memek yang ternyata sudah basah itu. Kusedot habis, sementara kedua tanganku meremas-remas payudaranya.
Badanku terasa remuk ditindih oleh dua orang wanita. Beberapa menit kemudian wanita gemuk itu mengerang hebat, kedua tangannya mencengkram keras badanku. Ia mendapatkan orgasmenya yang pertama. Bersamaan dengan itu laharku juga meletus di rongga rahimnya. Ah nikmat sekali. Ini yang kutunggu-tunggu karena tadi sempat tertunda.
Mulutku masih memainkan memek wanita kurus diatasku. Semenit kemudian ia juga mengerang keras sambil menjambak rambutku. Keluarlah cairan kenitmatannya, dan langsung kusedot habis, kubersihkan memeknya dengan lidahku. Kemudian ia berbaring disebelah kiriku, sementara wanita gemuk itu berbaring di sebelah kananku.
Kemudian aku bangkit dan berjalan menuju dapur. Haus sekali rasanya setelah bertempur tadi. Yah baru pertama kali aku melawan dua wanita sekaligus. Aku duduk di kursi dapur, meminum segelas jus jeruk dingin. Lama aku terdiam membayangkan kejadian tadi. Sampai tiba-tiba gairahku bangkit lagi. Aku segera bergegas kembali ke ranjang. Ternyata kedua wanita itu sudah tertidur pulas. Aku bingung harus memilih yang mana.
Akhirnya kuhampiri wanita yang bertubuh kurus karena belum kurasakan kehangatan memeknya dan ia pun belum mencoba kehebatan kontolku. Kusibakkan kedua pahanya. Terlihat memeknya sudah kering, kubasahi dengan air liurku. Perlahan tapi pasti, kuhujamkan batang kejantananku. Ia terbangun dan merintih, kemudian hanya tersenyum kecil dan memejamkan matanya lagi. Kubiarkan sebentar kontolku di dalam. Aku ingin merasakan kehangatan memeknya. Perlahan-lahan kumaju-mundurkan pantatku, sambil sesekali menggoyangkan pinggulku.
“Ahh.. ohh. Terus Mas, enak Mas, ohh.. ohh. nikmat sekali. Ayo Mas, sekalian cobain susuku donk!”
Sesuai perintahnya, segera kusedot payudara kirinya, sementara tanganku memelintir puting payudara kanannya. Ia mengerang kecil ketika kugigit putingnya. Pinggulku tetap menggenjotnya. Semakin lama semakin kupercepat ketika aku tahu ia akan orgasme. Bibir memeknya terasa menjepit keras kontolku ketika ia orgasme. Kuperlambat genjotanku, kemudian kucabut kontolku. Ia berbaring lemas.
Kulirik wanita gemuk disampingku. Ternyata ia telah terbangun dan sedang memainkan memeknya dengan tangannya. Rupanya dari tadi ia melihat permainanku dengan wanita yang kurus. Ia menatapku dan menunjuk-nunjuk memeknya.
“Ayo Mas, masukin dong, aku sudah gak tahan nich. Memekku sudah gatel lagi kepengin ngerasain kontol Mas yang gede.”
“Sabar sayang, enak yah kontolku ini, kepingin lagi yah?”
“Ayo dong Mas, jangan bercanda ah.”
Kontolku masih meneras dan tegang. Segera kuhujamkan ke liang kenikmatan wanita gemuk itu. Ternyata ia memang lebih pintar dari wanita yang kurus. Sambil kugenjot, ia memainkan sendiri pinggulnya memutar berlawanan dengan pinggulku.
Tiba-tiba ia mengangkat kedua kakinya dan disenderkan di pundakku. Aku pun duduk mengangkang, namun kontolku tetap menancap di lubang memeknya. Ah pintar sekali ia memilih gaya. Secara perlahan aku mulai menggenjot lagi.
Wanita yang kurus tiba-tiba bangkit dan langsung melumat payudara wanita yang gemuk. Pandai juga ia memainkan payudara itu satu persatu. Aku senang karena ada yang membantuku agar wanita gemuk ini cepat mencapai klimaks. Yah saat itu memang kurasakan laharku akan keluar, sementara wanita gemuk ini masih asyik menggoyang-goyang pinggulnya.
Kemudian kepalaku dicengkram keras oleh kedua kaki wanita yang gemuk. Ah rupanya ia akan orgasme. Kedua tangannya menjambak keras rambut wanita yang kurus.
“Ayo Mas, goyang yang kencang, ayo cepat, ohh.. ohh.. aahh”
“SAya juga sayang, dikeluarin di dalam aja yah, biar lebih enak.”
“Tersserraahh kammuu.. ahh.”
Ia mengerang hebat. Sampai-sampai wanita yang kurus berteriak juga menahan sakit sambil memegang rambutnya yang dijambak. Kepalaku juga sakit oleh jepitan kedua kakinya.
Aku segera mencabut kontolku. Laharku belum keluar. Segera kutarik kepala wanita yang bertubuh kurus. Kupaksa ia untuk mengoralku. Ternyata pintar juga ia memakan kontolku. Semenit kemudian meletuslah laharku di dalam mulutnya. Ia langsung meminum habis sampai bersih. Aku langsung terlentang lemas sampai akhirnya tertidur.
Aku baru terbangun kira-kira jam 8 pagi. Benar-benar lemas badanku ini, serasa mau copot tulang-tulangku. Aku segera berpakaian dan menuju dapur karena kudengar suara kedua wanita itu sedang bercakap-cakap.
“Selamat pagi sayang, cape yah. Ini Tante sudah buatkan susu dan nasi goreng untuk kamu.”, Wanita yang gemuk ini menggandeng tanganku untuk duduk.
“Perkenalkan nama saya Erna, panggil saja Tante Erna. Nah, yang ini Tante Dian. Kami berdua adalah teman bisnisnya Ella.”
Ya ampun, aku baru teringat kalau tujuanku kesini unuk bertemu dengan Mbak Ella. Karena nafsuku yang tertahan semalam aku jadi lupa.
Kami pun sarapan bersama. Tante Erna menceritakan kalau mereka suka berjudi, siapa yang menang harus menghadiahkan seorang gigolo sebagai pembayaran pajak kepada yang kalah. Mungkin maksudnya agar yang kalah tidak terlalu emosi karena kekalahannya. Dan semalam Mbak Ella telah menang besar, dan menjadikanku sebagai pajaknya. Selain mereka bertiga sebenarnya masih ada dua orang lagi, namun tidak bisa datang. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika kedua orang itu datang, berarti aku harus bertempur habis-habisan dengan empat orang. Wah mana tahan.
Tepat pukul 10 aku pamit pulang. Mereka mengucapkan banyak terima kasih. Mereka benar-benar puas dengan pelayananku semalam. Mereka memberiku uang dalam sebuah amplop. Aku menolaknya, karena dipaksa aku menerimanya juga.
Ingin rasanya cepat tiba di rumah, badanku benar-benar remuk, aku ingin segera dipijat oleh Bik Inah pembantuku. Di perjalanan kubuka amplop itu. Wow isinya satu juta rupiah. Kupikir tak sia-sia perjuanganku semalam.

Sampai disini Cerita tante girang bersambung ini dan Selesai.

 
Komunitas Tante Girang | Cerita Tante Girang powered by blogger.com
Design by Free7 Supported by Info Tante Girang